Home > Uncategorized > Akhir Sebuah Pesta

Akhir Sebuah Pesta

Oleh : Jemy V. Confido
LIONMAG edisi Desember 2012

Olimpiade adalah bertahun-tahun persiapan, dua minggu pelaksanaan dan tiga abad pemulihan ekonomi. Sindiran penduduk Moskow pada Olimpiade 1980

Akhir Sebuah Pesta

Akhir Sebuah Pesta

 

Semua tamu telah berlalu, tinggal Pak Tua duduk termangu. Angin berhembus malu malu, mengusap lembut wajahnya yang telah ditinggal tetamu. Kursi berserakan tak menentu, dihiasi ceceran sampah dan kotoran yang menunggu untuk disapu. Beberapa petugas masih terlihat membersihkan tempat itu. Mengangkat piring, meraih sendok, mengumpulkan sisa makanan menjadi padu. Panggung yang semula megah berubah menjadi syahdu. Tiada lagi orang yang berdiri di situ. Dekorasi mulai dilepas satu demi satu, menyisakan tirai yang melambai mengusap waktu, pertanda kemeriahan telah menjadi kenangan lalu.

Satu jam yang lalu, tempat nomor satu di kota kecil itu penuh dengan tamu. Sanak saudara hilir mudik berbaju baru sementara para biduan bernyanyi merdu. Hidangan tertata menyajikan berbagai menu. Para tamu mulanya nampak ragu, tapi kemudian mereka melahapnya dengan seru. Segera setelah itu, terdengar suara piring dan sendok beradu. Bercampur senda tawa yang terdengar di seluruh penjuru.

Berbulan yang lalu, Pak Tua sibuk mengatur pesta itu. Dicarinya tempat paling baru. Sementara sang isteri sibuk membuat daftar tamu. Mulai dari pembantu sampai penghulu. Tidak lupa menyusun daftar menu dan memesan baju baru. Putra yang nomor satu juga ikut membantu. Merencanakan acara agar dijamin seru. Tak ketinggalan memanggil band dan pesulap paling jitu. Serta tentu saja MC yang selalu ditunggu-tunggu.

Sebenarnya, pesta ini sudah dicanangkan setahun yang lalu. Kala itu, Pak Tua mendapat lamaran bagi si putri bungsu. Pak Tua langsung menyiapkan hajatan mendapat mantu. Sementara sang isteri turut membantu tentu, sibuk mengatur ini dan itu. Mulai dari tempat, menu, hingga jumlah tamu. Pak Tua pun menghitung waktu. Memastikan ia punya cukup uang untuk membayar tagihan pestanya satu demi satu. Tak lupa Pak Tua pun menghitung ternak dan lembu. Menaksir bobot mereka tanpa rasa pilu. Lalu menambah jumlahnya bila perlu. Tujuannya hanya satu. Memastikan seluruh keperluan pesta bisa tersedia seiring waktu.

Hari demi hari berlalu. Pak Tua dan istrinya semakin kencang berburu. Mencari seluruh keperluan yang tak bisa lagi menunggu. Pesta harus meriah demi si putri bungsu. Dengan selalu mengecek persiapan maka detik demi detik pun berlalu. Rasa hati menjadi gundah tak menentu. Setiap orang yang dijumpai membuat jantung semakin terpacu. Pesta besar si bungsu akan menjadi penentu. Reputasi dan martabat Pak Tua tidak boleh sampai terganggu.

AkhirSebuahPesta2

AkhirSebuahPesta2

 

Akhirnya, tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Setelah malam sebelumnya Pak Tua tidur tak menentu. Pagi itu pun ia segera bergegas mengambil baju baru. Setelah bebenah diri dan mengenakan sepatu, ia pun langsung memanggil keluarga dan tetangganya satu per satu. Semua dimintanya bersiap-siap untuk membantu. Hari ini semuanya harus bersatu padu agar upacara suci berlangsung syahdu.

Tak lama kemudian sanak saudara mulai datang membantu. Tak lupa juga mereka mencari tahu. Siapa saja yang akan menjadi bintang tamu. Dan hidangan nanti malam tentu. Lalu muncul menyusul para tetangga dan tetamu. Sanak saudara dari jauh pun sudah hadir melengkapi kerumunan itu. Mereka menatap Pak Tua dan keluarganya tiada jemu. Segera Pak Tua menjadi orang nomor satu. Mendapat perhatian dari orang sebanyak seribu.

Kemudian para tamu menjadi hening karena kedatangan penghulu. Jangankan tertawa, berbicara pun menjadi malu. Semua tiba-tiba terdiam seolah mati kutu. Hanya sesekali tersenyum sambil tersipu. Namun hal itu tidak membuat para tamu merasa terbelenggu. Mereka tetap mengikuti upacara dengan perasaan haru. Penghulu pun komat-kamit mengucapkan bahasa kalbu. Mendoakan ke-dua insan agar tetap bersatu.

Upacara syahdu segera berlalu. Bergantikan suara semarak dan nyanyian merdu. Turut mengiringi suara piring dan sendok garpu. sesekali terdengar anak anak tertawa lucu. Kegembiraan pun seakan turun menyelimuti para tamu. Pak Tua merasa bahagia beribu ribu. Seluruh rangkaian acara berjalan semulus salju. Pancaran mata puas juga terpancar dari para tamu. Semua memuji Pak Tua menjulang tinggi sampai ke langit biru. Semua perjuangan dan pengorbanan Pak Tua terbayar rasa haru biru yang bercampur jadi satu.

Namun segera semua itu cepat berlalu. Persiapan setahun yang lalu berubah menjadi kebahagiaan satu jam yang lalu. Satu demi satu para tamu berlalu. Biduan pun mulai berhenti melantunkan lagu. Hidangan yang semula penuh telah menjadi tumpukan sampah yang berserakan tak menentu. Dekorasi yang mahal tinggal berdiri membisu menunggu diturunkan satu demi satu. Tiada lagi tamu, tiada lagi acara syahdu, yang tinggal adalah angin yang berhembus malu-malu. Sesekali derunya agak menggebu. Seolah memberi semangat pada Pak Tua dan istrinya yang segera akan berhenti menjadi raja dan ratu.

Namun, saat ini, bagi Pak Tua semangat seperti sedang mengambil langkah seribu. Di balik kegembiraan dan rasa haru biru, Pak Tua mulai tertegun tak menentu. Teringat habis sudah ternak dan lembu. Belum lagi sepenggal tanah yang sempat digadai lima ratus ribu. Ditambah sisa-sisa hutang yang harus dibayar dan mungkin Pak Tua tak mampu. Semuanya hanya untuk tujuan satu, menyelenggarakan pesta paling meriah bagi si puteri bungsu.

Tapi ada kekuatiran lebih besar yang sudah menunggu. Seperti apakah bahtera rumah tangga anak dan mantu. Perjalanan mereka masih panjang dan tidak bisa dibayar beratus-ratus ribu. Pesta meriah tidak lantas menjadikan masa depan pasti dan tentu. Saat ini pekerjaan belum dimiliki sang mantu. Demikian juga tempat tinggal belum tersedia bagi si putri bungsu.

Andai saja Pak Tua tidak perlu mengadakan pesta semeriah itu. Cukup dilakukan resepsi sederhana setelah upacara nikah di penghulu. Mungkin ia bisa mengumpulkan uang untuk bekal anak dan mantu. Membeli rumah, membeli ladang atau membeli ternak lembu. Memulai usaha kecil dalam keluarga baru. Namun bila dijalani dengan tekun usaha itu akan terus maju. Menjadikan masa depan lebih cerah seiring waktu.

Namun sayang Pak Tua terlalu bernafsu. Pesta itu dijadikan alasan untuk menjadi orang nomor satu. Meski sesaat, meski sekejap, yang penting pernah bersanding bagai raja dan ratu. Keterbatasan kemampuan ekonomi tertutup oleh perasaan gengsi dan malu. Sementara, keadaan keluarga yang akan semakin morat marit tidak dipandang perlu. Bagaimana anak mantu akan mendapat nafkah masih tidak tahu. Bahkan dimana mereka akan tinggal masih belum tentu. Satu atap saja dirasa sudah cukup walau harus tidur di kursi tamu.

Pak Tua duduk semakin termangu. Di depan panggung yang kosong ia masih terduduk lesu. Para petugas sudah selesai membersihkan sampah makanan dan kursi tamu. Tinggal petugas dekorasi yang belum tiba untuk membongkar panggung yang sudah membisu. Mendampingi Pak Tua yang kini sorot matanya sendu. Perlahan-lahan ia bangkit berdiri mengayun langkah yang menimbulkan bunyi sepatu. eninggalkan gedung pesta yang sudah dinaungi awan kelabu. Sepintas ia melihat sepasang lelaki tua dan istrinya melangkah memasuki gedung itu. Mereka disambut pengelola persis seperti dirinya berbulan yang lalu. Pak Tua sadar bahwa dirinya bukanlah orang nomor satu. Dia hanya salah satu dari pengguna gedung itu. Dari tempat ia berdiri lelaki tua dan istrinya terlihat tertawa penuh keinginan menderu. Tiba tiba saja Pak Tua seperti melihat dirinya sendiri berbulan yang lalu. Dan ingin rasanya dia memundurkan waktu untuk mengubah keputusannya kala itu. http://www.jemyconfido.com

Advertisements
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s