Home > Lentera Hati > Memfungsikan Al-Qur’an

Memfungsikan Al-Qur’an

MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran), yang memperlombakan beberapa segi kemahiran dalam bidang Al-Quran, sudah merupakan tradisi positif yang sudah dilembagakan oleh pemerintah. Tidak diragukan besarnya perhatian pemerintah dan masyarakat menyangkut penyelenggaraan MTQ. Tidak kecil pula dana dan daya yang dikerahkan untuk mensukseskannya. Dampak postif dari perlombaan perlombaan tersebut dapat dirasakan baik ditingkat nasional maupun internasional. Namun demikian, disadari pula sisi yang terpenting dari kehadiran Al-Quran belum banyak dirasakan dalam pentas kehidupan bermasyarakat.

Al-Quran memeperkenalkan dirinya sebagai hu-dan li al-nas (petunjuk untuk seluruh manusia). Inilah fungsi utama kehadirannya. Dalam rangka penjelasan tentang fungsi Al-Quran ini, Allah menegaskan: Kitab Suci diturunkan untuk memberi putusan (jalan keluar) terbaik bagi problem problem kehidupan manusia (QS 2:213). Kita yakin bahwa para sahabat Nabi Muhammad saw., seandainya hidup pada saat ini, pasti akan memahami petunjuk petunjuk Al-Quran – sedikit atau banyak – berbeda dengan pemahaman mereka sendiri yang telah tercatat dalam literatur keagamaan. Karena pemahaman manusia terhadap sesuatu tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengalaman-pengalaman, disamping kecendrungan dan latar belakang pendidikannya.

Tantangan besar yang dihadapi oleh umat Islam, khususnya cendekiawan muslim, adalah bagaimana memfungsikan Kitab Suci ini, yaitu bagaimana menangkap pesan-pesannya dan memasyarakatkannya, bagaimana memahami dan melaksanakan petunjuk petunjuknya tanpa mengabaikan – apalagi mengorbankan – budaya dan perkembangan positif masyarakat. Sebagian umat kita memfungsikan Al-Quran sebagai mukjizat, padahal fungsinya sebagai mukjizat hanya ditujukan kepada yang meragukannya sebagai Firman Allah. Sikap semacam ini antara lain mengantarkan kita pada usaha mencari cari ayat Al-Quran untuk dijadikan bukti bahwa Kitab Suci ini telah mendahului penemuan penemuan ilmiah abad modern – suatu usaha yang tidak jarang “memperkosa” ayat-ayat itu sendiri.

Di sisi lain, kemukjizatannya dipahami oleh sebagian umat sebagai keampuhan ayat-ayat Al-Quran untuk melahirkan hal-hal yang tidak rasional. Ini bukan berarti saya mengingkari adanya hal-hal yang bersifat suprarasional atau supranatural. Hanya saja, umat harus disadarkan bahwa benang yang memisahkan suprarasional dengan irasional amatlah tipis, sehingga jika tidak waspada, seseorang dapat terjerumus ke lembah khurafat (takhayul). Lebih-lebih lagi kalau di ingat bahwa Al-Quran sendiri menegaskan bahwa al-imdad al-ghaiby, yang di dalamnya terdapat segala macam yang supra itu, tidak mungkin akan tiba tanpa didahului usaha manusia yang wajar, rasional, dan natural.[]

Sumber : Lentera Hati: kisah dan hikmah kehidupan / M. Quraish Shihab, -Bandung:Mizan,1994. hlm 30-32

Advertisements
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: