Home > Tujuan Hidup > 300 Rupiah yang Berkesan

300 Rupiah yang Berkesan


Saat masih sd, kami (saya dan medi/adik) setiap sore mengikuti TPQ Taman Pengajian Al Qur’an di Muslimat 2 Karangpoh. Kami berangkat ataupun pulang dari TPQ dengan cara berjalan kaki, dari TPQ ke rumah jaraknya kurang lebih 500m, suatu ketika, saat pulang dari TPQ, ada ibu2 yg memanggil kami, kami berdua gak kenal ibu2 itu,  model rumah ibu itu tampak depan banyak kaca nya, terdiri dari tiga susunan kaca, 2 kaca nako untuk ventilasi yang mengapit satu kaca besar, dgn kaca tersebut, orang di dalam rumah bisa melihat jelas jalan raya, tetapi yang di jalan hanya bisa melihat kaca warna hitam, saat ini sebutan dari tipe kaca tersebut adalah tipe kaca riben. Di pintu, ibu2 itu memanggil kami masuk ke rumahnya, gak pake lama, kami pun masuk rumah, saat tiba di balik kaca nako dan kami belum sempat duduk, masing2 dari kami di kasih uang kertas 3 lembar Rp100,-.  uang segitu jumlahnya gak besar2 sekali sih, karena saya juga dikasih segitu oleh ayah setiap hari, saya tanya ke ibu2 tadi, uang apa ini bu? ibu itu lantas njawab “uang jajan untuk kalian”, setelah itu kami di persilahkan pulang. Ibu itu belum menjelaskan kenapa kami diberi uang jajan? dan kenapa kami yang diberi, bukankah banyak yang lebih membutuhkan? maklum, keluarga kami termasuk orang yang mampu. karena rumah yang kami tempati saat itu pun baru selesai dibangun 2 tingkat.

Senang sekali rasanya mendapatkan uang tersebut. Seingatku, uang itu adalah uang pertama yg saya terima selain dari ayah dan ibu ku. Lama saya berpikir tentang alasan dari ibu2 itu, setiap pulang dari TPQ dan lewat rumah itu, sy berpikir terus ttg alasan ibu itu memberi uang, dalam hati bertanya kenapa ibu2 tadi ngasih kami uang begitu saja ya, tanpa suatu alasan, mungkin karena kami rajin mengaji kali ya, pikirku saat itu.

Pengaruh dari kejadian itu….

Sampai sekarang, kalau lihat rumah nya, saya selalu terngiang pada kejadian saat itu yaitu ada ibu2 baik yang memberi kami uang tanpa suatu alasan. begitu kuatnya kenangan itu, bila saya ketemu anak kecil yang tidak ku kenal saat pulang mengaji atau pulang jamaah sholat, saya terkadang memberi uang anak tersebut tanpa suatu alasan, saya hanya ingin mereka mengingat bahwa saat mereka besar nanti ada orang asing yang memberi mereka uang jajan tanpa alasan.

Tanpa bermaksud mengesampingkan jasa Ortu, amal ibu2 itu membekas, sehingga bila saya beramal kepada anak kecil, yg teringat adalah ibu2 tadi, nilai nominal pemberian nya ibu itu gak seberapa, tetapi nilai amalnya tak terhingga.

-Nur Muhlis-

Advertisements
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: