Archive

Archive for the ‘Agama Islam’ Category

Nikmat Iman dan Nikmat Sehat

April 15, 2017 Leave a comment

Terkadang kita merasa bahwa kita telah berbuat baik kepada Allah, tetapi Allah belum memberi kita kebaikan. Pemikiran seperti itu hendaknya di rubah, justru Allah lah yg memberi kita nikmat iman, sehingga kita tidak tersesat dan selalu berbuat baik. Logika sederhana, dan semua orang berakal pasti memilikinya, bila kita inginkan sesuatu, pasti harus ada usaha / pengorbanan. Klo kita ingin pandai, ya mesti berkorban waktu dan tenaga untuk belajar. Klo kita ingin sehat, ya kita mesti makan makanan yg sehat dan rajin olah raga. klo kita ingin surga nya Allah, ya mesti kita harus beramal baik. Masuk logika kah bila kita suka berbuat maksiat dan jarang beribadah akan masuk surganya Allah. Pertanyaan sederhana berikutnya, apakah berbuat maksiat itu memerlukan usaha yg keras?

.
Cuplikan ceramah Ust Dr. Syafiq Reza Basalamah:

Ada seorang pemuda di Saudi, pemuda ini di penjara karena berhutang sekitar 750rb riyal (Rp2,5M), pemuda ini mendapat kunjungan dari salah seorang syaikh di arab, dia mengatakan kepada syaikh tersebut kalau dia ingin bunuh diri, karena syaikh ini kaya, syaikh itu bilang dan menawarkan kepada pemuda itu, jangan lah kamu bunuh diri, kamu akan sy beri 1jt riyal, mendengar ucapan syaikh tersebut, senanglah hati si pemuda. Lalu syaikh tersebut melanjutkan ucapannya kepada pemuda tersebut, uang 1jt riyal ini ada syaratnya, pemuda itu menjawab, ya Syaikh, sy akan berusaha maksimal untuk melakukan syarat tersbut asalkan saya bisa mendapat 1jt riyal. lalu syaikh menjawab, syaratnya adalah kamu harus menyerahkan 2 bola mata milikmu, setengah hati kamu, setengah liver kamu. Mendengarnya, pemuda itu pun keberatan, lalu syaikh itu memberi pilihan berikutnya, bahwa ada pekerjaan yg bisa mendapatkan uang yg besar, yg mampu membayar lunas hutang mu, pekerjaan itu adalah menjadi misionaris di afrika, syaratnya kamu harus murtad dan keluar dari islam, mendengar itu, pemuda itu pun keberatan lagi, dia gak mau murtad. Dan syaikh itu bilang ke pemuda tersebut, begitu banyak nikmat Allah yg kamu dapatkan selama ini, yg baru saya tunjukkan itu adalah sedikit contoh nikmat kesehatan dan nikmat iman, dan keduanya nilainya jauh lebih dari hutangmu, lalu mana mungkin kamu dengan alasan hutang 750rb riyal kamu meninggalkan semua nikmat yang Allah berikan kepada mu.

Tidak berguna suatu ilmu, bila dengan hal itu, rasa takut kita kepada Allah semakin berkurang. Misalkan dengan merasa kita sudah hafal suatu surat dlm AlQur’an, malah membuat kita semakin tidak takut kepada Allah. Ada sebuah kisah, seseorang berwasiat kepada sanak saudaranya, bila dia meninggal, agar jasadnya di bakar dan abunya di sebar di lautan, harapannya, bila abunya tersebar di lautan, tidak ada siksa kubur yg akan menimpanya, karena jasadnya tersebar, di lain sisi, orang tersebut meyakini bahwa meskipun abu nya di sebar di lautan, jasadnya akan kembali utuh saat di akhirat, tetapi dia tetap berwasiat seperti itu kepada sanak saudaranya, karena dia tahu, hal maksiat yang telah dilakukannya akan membuat Allah murka. Saat di akhirat, Allah bertanya kepadanya, kenapa kamu menyuruh sanak saudara mu untuk membakar jasadmu dan menebar abunya di lautan, lalu dia menjawab, saya takut akan siksa mu ya Allah. Mendengar itu, Allah menyuruh malaikat untuk memasukkan orang tersebut di surga.

-Nur Muhlis-

Advertisements

Kemudahan Beragama

October 15, 2016 Leave a comment

kaabah

Seorang wanita datang mengadukan suaminya kepada Nabi saw.:”Wahai Rasul, suamiku, Shafwan, menghardik dan memukulku bila aku shalat, memaksaku berbuka bila aku berpuasa (sunnah), dan dia tidak sholat subuh kecuali setelah matahari terbit.”

Mendengar keluhan ini, Nabi saw. menoleh dengan seluruh badannya – begitulah cara Nabi menoleh – kepada suami si wanita itu sambil bertanya: “Benarkah itu wahai Shafwan?”

“Benar, wahai Nabi,” Jawab Shafwan tulus, “tetapi aku menghardik dan memukulnya karena (shalatnya panjang) ia membaca dua surah (selain Al-Fatihah) setiap rakaatnya. Telah berkali-kali kutegur, tetapi ia terus menolak. Benar, wahai Rasul, aku menyuruhnya berbuka ketika berpuasa sunnah, sebab aku adalah seorang pemuda sehat yang seringkali tak mampu menahan birahi. Juga benar bahwa aku memang tidak shalat subuh kecuali setelah matahari (hampir) terbit. Sebab keluargaku telah terbiasa bangun lambat, sungguh sulit bagiku bangun di waktu fajar.”

Nabi saw. membenarkan sifat Shafwan, sambil berpesan: “Shalat subuhlah segera setelah engkau bangun!” Kemudian beliau menoleh pada istri Shafwan dan berkata : “persingkatlah shalatmu dan jangan berpuasa sunnah kecuali atas perkenan suamimu.”

Kisah diatas dikemukakan oleh Ahmad Hasan Al-Baquri, mantan Menteri Waqaf dan urusan Al-Azhar, Mesir. Dalam kumpulan tulisannya yang diberi judul Min Adab Al-Nabuwah (Sekelumit Etika Kenabian), ketika membicarakan kemudahan-kemudahan beragama. Memang, Al-Qur’an secara gamblang menggarisbawahi bahwa Allah tidak menjadikan sedikit kesulitan pun dalam hal beragama (QS 22:78).

Salah satu kaidah hukum Islam menegaskan bahwa “kesulitan melahirkan kemudahan”, dalam arti “jika seseoarang mengalami kesulitan dalam pelaksanaan agama, maka ia mendapat pengecualian sehingga memperoleh kemudahan”. Sayang, jalan-jalan kemudahan itu tidak banyak diketahui umat karena banyak ulama enggan mempopulerkannya. Mereka khawatir, dengan mempopulerkannya, akan menimbulkan sikap mengabaikan agama. Sikap ini, dari satu sisi, dapat dibenarkan. Tetapi, hendaknya diingat juga bahwa tidak jarang ajaran agama diabaikan sama sekali karena kemudahannya tidak diketahui.

Sungguh menarik makalah Mufti Lebanon Selatan, Syeikh Nadim Al-Jisr, yang pernah disampaikan di Muktamar Kedua Badan Penelitian Islam di Mesir: “Adalah baik memberi kemudahan, misalnya, dalam bersuci, menggabung shalat (zhuhur dan asar, atau maghrib dan isya) khususnya saat ada uzur (kesibukan) sesuai dengan madzhab ulama Hanbali. Apalagi seperti pada saat sekarang ini, di mana tuntutan untuk bekerja keras dan cepat untuk memenuhi kebutuhan hidup sangat tinggi.” Ini bukan berarti menggampangkan ajaran agama, tetapi demikian itulah ajaran agama.

Mungkin ada yang kaget membaca komentar Al-Baquri tentang kisah di atas. Dia menulis: “Rasulullah saw. membolehkan bagi yang terbiasa tidur untuk melaksanakan shalat subuh sesudah terbitnya matahari. Ia tidak berdosa karena keterlambatannya itu. Demikianlah, orang tidak mengenal kemudahan ini.“ Supaya tidak mengagetkan, perlu ditambahkan bahwa ini tidak berlaku bagi mereka yang berleha-leha di malam hari, juga tidak bagi yang terlambat bangun karena kemalasan.[]

Sumber : Lentera Hati: kisah dan hikmah kehidupan / M. Quraish Shihab, -Bandung:Mizan,1994. hlm 58-60

Memahami Petunjuk Agama

October 15, 2016 Leave a comment

target

Tiga jenis olahraga yang dianjurkan Nabi, dalam salah satu hadis, adalah : Ajarilah anak-anak mu berenang, memanah, dan menunggang kuda. Tentunya ini bukan berarti bahwa hanya ketiga olahraga itulah yang dianjurkan untuk diikuti oleh kaum Muslim. Karena dalam riwayat lain, beliau bertanding dengan istrinya, Aisyah, dalam olahraga lari. Beliau juga bergulat dan menang ketika ditantang seorang jagoan yang bersedia masuk Islam bila dikalahkan.

Mengapa beliau berolahrahga dan menganjurkannya? Jawabannya, jelas, untuk kesehatan jasmani. Tetapi apakah hanya demikian? Jawabannya jelas “tidak!” Karena Al-Qur’an justru mengecam mereka yang sehat jasmaninya – bahkan indah mengagumkan “bagaikan kayu tersandar” – tetapi jiwanya kosong (lihat QS 63:4).

Nabi saw. juga memperingatkan bahwa orang yang kuat atau pegulat bukannya yang (hanya) memiliki kekuatan fisik, tetapi adalah mereka yang mampu mengendalikan diri. Dalam Al-Qur’an, Tuhan memerintahkan manusia agar melakukan persiapan-persiapan dalam menghadapi musuh – baik yang telah diketahui kekuatannya maupun yang belum. Persiapan tersebut berupa kekuatan apa saja yang mampu dipersiapkan serta kuda-kuda yang ditambat (QS 8:60). Nabi saw. menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “kekuatan” tersebut adalah “memanah”. Demikianlah panahan dijadikan sebagai salah satu sarana membela negara dan agama.

Nah, bagaimana kita memahami penjelasan ini dalam kaitannya dengan berolah raga serta kaitannya dengan pemahaman petunjuk-petunjuk agama? Berolah raga tidak sekedar untuk meraih kesehatan jasmani atau sekadar mencapai prestasi. Lebih dari itu, ada tujuan “kejiwaan”. Karenanya, nilai-nilai kejiwaan harus di prioritaskan dan dijunjung tinggi. Bukan hanya yang berkaitan dengan sportivitas, tetapi termasuk pula nilai-nilai spiritual keagamaan.

Di sisi lain, bagaimana penjelasan Rasulullah itu dipahami dalam kaitannya dengan pemahaman agama? Ada sebagian orang yang memahami petunjuk-petunjuk agama secara kaku walaupun itu berkaitan dengan bidang keduniaan dan kemasyarakatan. Yaitu, misalnya, mereka memepertahankan teks ajaran dan makna-makna harfiahnya tanpa memperhatikan konteks sosial dan perkembangan masyarakat pada masa petunjuk itu disampaikan. Pola pikir semacam ini akan dapat menyulitkan umat. Bayangkan saja kalau kita kini hanya mempersiapkan panah beserta kuda-kuda yang ditambat untuk menghadapi musuh. Apa gerangan yang akan terjadi bila kita diserang? Jika demikian, kita harus memahami bahwa ada petunjuk-petunjuk Rasulullah saw. yang diangkatnya sebagai contoh untuk masyarakat beliau limabelas abad yang lalu.

Petunjuk semacam ini harus dipahami dalam konteksnya, kemudian disesuaikan dengan konteks kita masa kini, karena junjungan kita Muhammad saw. tidak selalu berfungsi sebagai rasul. Sekali waktu beliau berfungsi sebagai mufti yang menyampaikan putusan atau hakim yang memutuskan perkara. Pada saat yang lain, beliau adalah pemimpin yang menyesuaikan petunjuknya dengan kondisi masyarakatnya, bahkan sesekali juga sebagai seorang manusia biasa yang memiliki keistimewaan, kecendrungan, serta kepentingan yang dapat berbeda dengan manusia-manusia lain. Memahami petunjuk-petunjuk beliau atas dasar pemilahan tersebut, menjadikan agama Islam benar-benar sesuai dengan waktu dan tempat.[]

Sumber : Lentera Hati: kisah dan hikmah kehidupan / M. Quraish Shihab, -Bandung:Mizan,1994. hlm 55-57

Agama Itu Fitrah

October 15, 2016 Leave a comment

candle

Fitrah berarti asal kejadian, bawaan sejak lahir, jati diri, dan naluri manusiawi. Agama (yang bersumber dari Tuhan) yang intinya adalah Ketuhanan Yang Mahaesa, menurut Al-Qur’an, adalah fitrah (lihat QS 30:30). Hanya saja, fitrah ini tidak seketat yang lain dan pemenuhannya dapat ditangguhkan sampai akhir hayat.

Komunisme juga memiliki paham yang akhirnya menjadikannya semacam agama, tetapi ia tidak sesuai dengan fitrah.

Pangkalan tempat bertolak dan bersauh agama adalah wujud yang Mahamutlak yang berada di luar alam, namun dirasakan oleh manusia. Sedangkan komunisme adalah masyarakat bawah yang terbentuk karena adanya manusia. Agama berpandangan jauh kedepan melampui batas hidup duniawi, sedangkan komunisme membatasi diri pada kekinian dan ke-disini-an.

Agama memperhatikan manusia seutuhnya, komunisme mengabaikan ruhani manusia. Agama berusaha mewujudkan keserasian antar seluruh manusia, komunisme mengajarkan bahwa pertarungan antarkelas mutlak adanya. Inilah sedikit dari banyak perbedaan. Kalau demikian, agama dan komunisme bertolak belakang sehingga pertarungannya sulit dihindari. Siapa yang akan menang? Sebelum menjawab pertanyaan ini, kita hayati terlebih dahulu pernyataan: “Agama adalah fitrah”.

Karena agama adalah fitrah atau sejalan dengan jati diri, maka ia pasti dianut oleh manusia – kalau bukan sejak muda, maka menjelang usia berakhir. Fir’aun yang durhaka dan merasa dirinya tuhan pun pada akhirnya bertobat dan ingin beragama, sayang ia terlambat (QS 10:90).

Karena agama adalah fitrah, maka ia tidak boleh dan tidak perlu dipaksakan. Mengapa harus memaksa? Tuhan tidak butuh, dan akhirnya pun Dia dan agama-Nya diakui. Bukankah agama itu fitrah?

Karena agama adalah fitrah, maka pasti petunjuknya tidak ada yang bertentangan dengan jati diri dan naluri manusia. Kalau pun ada maka cepat atau lambat akan ditolak oleh penganutnya sendiri, dan ketika itu terbukti bahwa ia bukan fitrah.

Islam bukan saja sesuai dengan fitrah, tetapi bahkan memberikan hak veto kepada pemeluknya untuk menangguhkan atau membatalkan pelaksanaan petunjuk apabila menyulitkan seseorang: Allah sama sekali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama sedikit pun kesulitan (QS 22:78). Allah menghendaki kemudahan untuk kamu dan tidak menghendaki kesulitan (QS 2:185). “Aku diutus membawa al-hanafiyah al-samha’ (agama yang luwes dan toleran),” demikian sabda Nabi saw.

Komunisme bertentangan dengan fitrah, bukan hanya ajarannya tetapi juga cara penyebarannya yang bersifat memaksa atau membodohi. Memang hanya cara itulah yang dapat dilakukan, karena ia bertentangan dengan fitrah. Apakah kejatuhan mereka di Rusia karena kerasnya tekanan dan pemaksaan atau karena semakin tingginya kesadaran akan pertentangannya denga fitrah manusia? Sejarahlah yang akan mencatat.

Kewaspadaan terhadap komunisme harus terus kita pelihara, walaupun kita sadar dan yakin bahwa akhirnya paham ini – sebagaimana halnya semua paham yang bertentangan dengan jati diri manusia – pasti akan kalah dan dikubur oleh penganutnya sendiri.

Manusia dari hari ke hari semakin dewasa. Kalau sebelumya Tuhan menilai perlu mengutus para nabi dan merinci petunjuk-Nya, maka sejak manusia menanjak tangga kedewasaan, Dia menghentikan kedatangan rasul dan mencukupkan dengan petunjuk umum yang dibawa oleh Rasul terakhir. Dengan petunjuk umum itu, bersama akal yang semakin dewasa, manusia akan mampu menemukan kebenaran.[]

Sumber : Lentera Hati: kisah dan hikmah kehidupan / M. Quraish Shihab, -Bandung:Mizan,1994. hlm 52-54

Mengapa Islam Diseru dari Makkah?

October 15, 2016 Leave a comment

khalifah

Kalau anda ingin menyampaikan pesan keseluruh penjuru, sebaiknya anda berdiri di tengah, di jalur yang memudahkan pesan itu tersebar. Hindari tempat dimana ada kekuatan yang dapat menghalangi atau merasa dirugikan. Kemudian pilih penyampai pesan yang simpatik, berwibawa, dan berkemampuan sehingga menjadi daya tarik tersendiri. Timur Tengah adalah jalur penghubung Timur dan Barat, maka wajarlah jika ia menjadi tempat menyampaikan pesan Ilahi yang terakhir.

Pada masa nabi Muhammad saw., yaitu abad ke-5 dan ke-6 Masehi, terdapat dua adikuasa. Pertama, Persia yang menyembah api dan ajaran Mazdak menegenai kebebasan seks yang masih berbekas pada masyarakatnya sehingga permaisuri pun harus menjadi milik bersama. Kedua, Romawi yang Nasrani yang juga masih dipengaruhi oleh budaya kaisar Nero yang memperkosa ibunya sendiri dan membakar habis kotanya.

Kedua adikuasa ini bersitegang memperebutkan wilayah Hijaz di timur Tengah yang ketika itu belum terkuasai, walau upaya telah dilakukan secara halus oleh Utsman bin Huwairits (seorang antek Romawi), dan dengan kekerasan oleh Abrahah bersama pasukan bergajahnya, dalih serangan Abrahah adalah penghinaan terhadap rumah ibadah yang dibangunnya di Yaman, sedang tujuannya adalah menguasai jalur Hijaz, dari Yaman menuju ke Syam, tapi tangan tuhan menggagalkannya.

Bayangkanlah apa yang akan terjadi bila tauhid dikumandangkan di daerah kekuasaan Romawi atau Persia yang keyakinannya bertentangan dengan tauhid. Di Hijaz ketika itu belum terpusat kekuasaan, dan kelompok-kelompok suku saling bermusuhan dan berebut pengaruh.

Makkah (pusat Hijaz) adalah tempat para pedagang dan seniman datang memamerkan dagangan serta karyanya. Disinilah bertemu kafilah Selatan dan Utara, Timur dan Barat. Penduduk Makkah juga melakukan “perjalanan musim dingin dan musim panas” ke daerah Romawi dan Persia. Ini akan memudahkan penyebaran pesan.

Satu faktor lagi yang mendukung Makkah adalah bahwa masyarakat Makkah belum banyak disentuh peradaban. Pada saat itu masyarakat Makkah belum mengenal nifaq (bermuka dua), dan mereka pun keras kepala, serta lidah (ungkapan) mereka tajam (QS 33:19). Penduduk makkah juga dikenal sangat kuat pendiriannya meskipun ditekan, Bilal, Ammar bi Yasir, dan banyak contoh lainnya tidak rela mengucapkan kalimat kufur meskipun agama memberikan peluang “berpura-pura” selama hati tetap dalam keadaan beriman (baca QS 16:106). Memang, kemunafikan baru dikenal di Madinah. Entah bagaimana kesudahan agama Islam jika sejak dini sudah ada pemeluknya yang munafik.

Quraisy, suku yang paling berpengaruh, tinggal di Makkah. Bahasa dan dialeknya sangat indah dan dominan. Suku Quraisy memiliki dua keluarga besar, yaitu Hasyim dan Umayyah. Kedua keluarga besar ini walaupun dari satu turunan namun memiliki banyak perbedaan, baik sebelum maupun sesudah kedatangan Islam.

“Keluarga Hasyim terkenal gagah, budiman, dan sangat beragama. Sementara itu keluarga Umayyah adalah politikus yang pandai melakukan tipu daya, pekerja yang ambisius, dan tidak gagah. Hal ini disepakati oleh para sejarahwan, dan tidak ditolak oleh Umayyah meskipun setelah mereka berkuasa,” tulis Al-Aqqad dalam Mathla’Al-Nur.

Nah, dari keluarga siapakah di Makkah ini yang wajar dipilih untuk tugas kenabian? Tentu saja keluarga Hasyim. Dari keluarga ini terpilih nabi Muhammad, yang bukan saja karena gagah, simpatik dan berwibawa, tapi juga karena “budi pekertinya yang luhur”. Inilah alasan pengangkatan yang tercantum pada wahyu ketiga yang memerintahkan menyampaikan pesan Ilahi (baca QS 68:4).

Dari uraian diatas, jelas bahwa bukan karena masyarakat Makkah yang paling bejat sehingga Allah mengutus Nabi-Nya dari sana. Pemikiran ini terlalu dangkal, karena masih banyak faktor yang lebih “ilmiah” dan lebih beradab. Namun, berhasilkah tulisan sederhana ini menjelaskan dan meyakinkan pembaca?[]

Sumber : Lentera Hati: kisah dan hikmah kehidupan / M. Quraish Shihab, -Bandung:Mizan,1994. hlm 48-51

Jamuan Tuhan

October 15, 2016 Leave a comment

allah

Suatu malam, Rasulullah saw. berbisik kepada Aisyah, “Apakah kamu rela pada malam (giliranmu) ini, aku beribadah?”

“Aku sungguh senang berada di sampingmu selalu, tetapi aku pun rela dengan apa yang engkau sukai,” sahut Aisyah.

Rasul saw. kemudian bangkit untuk berwudhu – tidak banyak air yang digunakan – lalu beliau shalat dengan membaca Al-Qur’an, sambil menangis sampai membasahi (ikat) pinggangnya. Selesai shalat, beliau duduk memuji Allah, air matanya masih bercucuran sehingga membasahi pula lantai tempat duduknya. Demikian cerita Aisyah.

“Tidak biasa Rasul terlambat ke masjid untuk shalat (sebelum) subuh, ada apa gerangan yang terjadi?” tambah bilal. Maka kemudian didatangilah rasul, dan ditemuinya beliau sedang menangis.

“Mengapa engkau menangis, wahai Rasul? Bukankah Allah telah mengampuni dosamu?” tanya Bilal.

Betapa aku tidak menangis. Semalam telah turun kepadaku wahyu: sesunnguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah, sambil berdiri, duduk atau berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata:) ’Ya Tuhan kami, tidaklah engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, peliharalah kami dari siksa neraka’ (QS 3:190-191)

Rasul saw. kemudian berkata kepada Bilal, “Rugilah yang membacanya tapi tak menghayati kandungannya.”

Orang berakal menggunakan potensinya untuk memahami ayat-ayat Tuhan yang tertulis di dalam mushaf atau terbentang di alam raya. Mereka tidak menempatkan diri di menara gading, tidak juga berpikir terlepas dari Allah, juga tidak membatasi ingatan kepada-Nya hanya pada waktu-waktu tertentu. Berdiri, duduk, dan berbaring sekalipun, mereka mengingat-Nya. Usaha tidak hanya sampai pada pemahaman, tetapi pengakuan tentang “hak” yang mewarnai seluruh ciptaan Allah. Pengakuan ini kemudian menghasilkan amal dan karya-karya besar. Pemahaman tanpa pengakuan adalah kejahilan, pengakuan tanpa pengamalan sama dengan kesesatan.

“Ayat-ayat adalah jamuan Allah.” Demikian sabda Nabi saw. Allah mengundang manusia untuk menelaah ayat-ayat-Nya. Menghadiri undangan-Nya berarti menikmati “santapan”-Nya. Kenikmatan makanan dalam suatu perjamuan akan semakin terasa dengan kehadiran teman-teman yang berbudi. Demikian pula dengan jamuan Tuhan. Ada etika dan tatacara makan yang baik yang harus dipatuhi oleh setiap orang terhormat, demikian pula dengan undangan Tuhan.

Mengecap citarasa makanan menjadi tujuan awal memenuhi undangan, tetapi ada tujuan utama dari si pengundang yang harus disadari oleh para undangan agar terjalin hubungan mesra antara kedua pihak.

Ayat-ayat yang dibaca atau dilihat yang merupakan “jenis-jenis makanan” yang di hidangkan bukan hanya untuk dinikmati oleh para undangan sendirian, “Makanlah yang terjangkau oleh tangan kananmu dan ulurkan makanan itu kepada yang tidak menjangkaunya,” pesan Allah. Ini berarti ada tanggung jawab untuk memberi sesuatu kepada orang lain.

Pengetahuan saja tidak cukup, pengakuan pun masih kurang, buahnya harus ada untuk diri sendiri dan dibagikan pula kepada orang lain. Rugilah yang tidak menghadiri jamuan yang mewah ini, tetapi lebih rugi lagi yang menghadirinya tanpa menikmati hidangannya, sedangkan yang menikmati sendirian amat tercela.[]

Sumber : Lentera Hati: kisah dan hikmah kehidupan / M. Quraish Shihab, -Bandung:Mizan,1994. hlm 45-47

Hari Raya Penyempurnaan Agama

October 15, 2016 Leave a comment

1-al-masjid-al-haram-makkah-saudi-arabia11

Ketika Nabi saw. wuquf (berada di arafah) bertepatan dengan hari raya umat Yahudi dan Nasrani. Pada saat itu tibalah wahyu terakhir kepada Nabi Muhammad saw. : Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku untukmu dan telah Kuridhai Islam (penyerahan diri) menjadi agama untukmu (QS 5:3). Demikian terjemahan menurut Tim Depag.

Menarik sekali untuk dipahami dan dihayati berkaitan dengan wahyu terakhir yang turun pada saat umat Islam merayakan Idul Adha. Misalnya, arti akmaltu yang diterjemahkan dengan “Kusempurnakan”, dan atmamtu yang di terjemahkan dengan “Kucukupkan”.

Saya tidak tahu persis apa perbedaan antara kedua kata tersebut dalam bahasa Indonesia. Tetapi, Al-Qur’an menggunakan keduanya untuk makna yang sama tapi tidak serupa. Akmaltu diartikan dengan “Menghimpun banyak hal yang kesemuanya sempurna dalam satu wadah yang utuh.” Sedangkan atmamtu diartikan dengan “Menghimpun banyak hal yang belum sempurna sehingga menjadi sempurna.”

“Agama” disempurnakan, sedangkan “nikmat” dicukupkan, seperti halnya dalam bahasa terjemahan di atas. Ini berarti bahwa petunjuk-petunjuk agama yang beraneka ragam itu kesemuanya dan masing-masingnya telah sempurna. Jangan menduga petunjuk sholat, zakat, nikah, jual beli, dan sebagainya yang disampaikan oleh Al-Qur’an masih mempunyai kekurangan-kekurangan. Semua telah sempurna dan dihimpun dalam satu wadah yaitu din atau yang dinamai dengan agama Islam.

“Nikmat” telah dicukupkan, memang banyak nikmat Tuhan, misalnya, kesehatan, kekayaan, pengetahuan, keturunan, dan sebagainya. Tetapi, jangan menduga masing-masing telah sempurna. Kesemuanya ini, walaupun digabungkan, masih akan kurang. Baru sempurna apabila ia dihimpun bersama dengan apa yang turun dari langit berupa petunjuk-petunjuk Ilahi. Petunjuk-petunjuk itulah – ketika digabungkan dengan anugerah-anugerah semacam kesehatan, kekayaan dan sebagainnya – yang menjadikannya nikmat-nikmat yang sempurna. Bila anda memperoleh kekayaan tanpa agama, maka betapapun banyaknya ia tetap akan kurang, demikian pula yang lain.

Din (agama) dan dain (utang) adalah dua kata dari akar yang sama, yang mempunyai kaitan makna yang sangat erat. Beragama berarti usaha mensyukuri anugerah-anugerah Tuhan. Dengan kata lain, membayar “utang” dan “budi baik” Tuhan kepada kita. Sayang, kita tidak mampu membayar tuntas dan sempurna, karena terlalu banyaknya anugerah tersebut, sampai-sampai kita tidak dapat lagi menghitungnya. Maka untuk menampakkan itikad baik kita kepada-Nya, kita datang menghadap dan menyerahkan apa yang kita miliki sambil berkata: “Ya Allah aku tak mampu membayar utangku, karenanya aku datang menyerahkan wajahku kepada-Mu, Aslamtu wajhi ilaika.” Inilah Islam, dalam arti penyerahan diri kepada Allah.

Syukurlah, Allah menerima pembayaran yang demikian, dan dinyatakan secara resmi penerimaan tersebut dalam wahyu terakhir itu: Telah Kuridhai (kuterima dengan puas dan senang) Islam (penyerahan dirimu) sebagai agama (pembayaran utang).[]

Sumber : Lentera Hati: kisah dan hikmah kehidupan / M. Quraish Shihab, -Bandung:Mizan,1994. hlm 42-44