Archive

Archive for the ‘Tujuan Hidup’ Category

300 Rupiah yang Berkesan

April 14, 2017 Leave a comment


Saat masih sd, kami (saya dan medi/adik) setiap sore mengikuti TPQ Taman Pengajian Al Qur’an di Muslimat 2 Karangpoh. Kami berangkat ataupun pulang dari TPQ dengan cara berjalan kaki, dari TPQ ke rumah jaraknya kurang lebih 500m, suatu ketika, saat pulang dari TPQ, ada ibu2 yg memanggil kami, kami berdua gak kenal ibu2 itu,  model rumah ibu itu tampak depan banyak kaca nya, terdiri dari tiga susunan kaca, 2 kaca nako untuk ventilasi yang mengapit satu kaca besar, dgn kaca tersebut, orang di dalam rumah bisa melihat jelas jalan raya, tetapi yang di jalan hanya bisa melihat kaca warna hitam, saat ini sebutan dari tipe kaca tersebut adalah tipe kaca riben. Di pintu, ibu2 itu memanggil kami masuk ke rumahnya, gak pake lama, kami pun masuk rumah, saat tiba di balik kaca nako dan kami belum sempat duduk, masing2 dari kami di kasih uang kertas 3 lembar Rp100,-.  uang segitu jumlahnya gak besar2 sekali sih, karena saya juga dikasih segitu oleh ayah setiap hari, saya tanya ke ibu2 tadi, uang apa ini bu? ibu itu lantas njawab “uang jajan untuk kalian”, setelah itu kami di persilahkan pulang. Ibu itu belum menjelaskan kenapa kami diberi uang jajan? dan kenapa kami yang diberi, bukankah banyak yang lebih membutuhkan? maklum, keluarga kami termasuk orang yang mampu. karena rumah yang kami tempati saat itu pun baru selesai dibangun 2 tingkat.

Senang sekali rasanya mendapatkan uang tersebut. Seingatku, uang itu adalah uang pertama yg saya terima selain dari ayah dan ibu ku. Lama saya berpikir tentang alasan dari ibu2 itu, setiap pulang dari TPQ dan lewat rumah itu, sy berpikir terus ttg alasan ibu itu memberi uang, dalam hati bertanya kenapa ibu2 tadi ngasih kami uang begitu saja ya, tanpa suatu alasan, mungkin karena kami rajin mengaji kali ya, pikirku saat itu.

Pengaruh dari kejadian itu….

Sampai sekarang, kalau lihat rumah nya, saya selalu terngiang pada kejadian saat itu yaitu ada ibu2 baik yang memberi kami uang tanpa suatu alasan. begitu kuatnya kenangan itu, bila saya ketemu anak kecil yang tidak ku kenal saat pulang mengaji atau pulang jamaah sholat, saya terkadang memberi uang anak tersebut tanpa suatu alasan, saya hanya ingin mereka mengingat bahwa saat mereka besar nanti ada orang asing yang memberi mereka uang jajan tanpa alasan.

Tanpa bermaksud mengesampingkan jasa Ortu, amal ibu2 itu membekas, sehingga bila saya beramal kepada anak kecil, yg teringat adalah ibu2 tadi, nilai nominal pemberian nya ibu itu gak seberapa, tetapi nilai amalnya tak terhingga.

-Nur Muhlis-

Advertisements

Happines Is…

December 13, 2015 Leave a comment

Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony.(Mahatma Gandhi)

Merantau

December 24, 2013 2 comments
Al-Imam asy-Syafi’i berkata dalam syairnya:
.
ما في المُقامِ لذي عقلٍ وذي أدبٍ مِنْ رَاحَة ٍ فَدعِ الأَوْطَانَ واغْتَرِب,
“Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman, tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang”
.
سافرْ تجد عوضاً عمَّن تفارقهُ وانْصَبْ فَإنَّ لَذِيذَ الْعَيْشِ فِي النَّصَب
“Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan, Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang”
.
إني رأيتُ وقوفَ الماء يفسدهُ إِنْ سَاحَ طَابَ وَإنْ لَمْ يَجْرِ لَمْ يَطِبِ
“Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan, Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang”
.
والأسدُ لولا فراقُ الأرض ما افترست والسَّهمُ لولا فراقُ القوسِ لم يصب
“Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa, Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran”
.
والشمس لو وقفت في الفلكِ دائمة لَمَلَّهَا النَّاسُ مِنْ عُجْمٍ وَمِنَ عَرَبِ
“Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam, Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang”
.
والترب كالترب ملقى في أماكنه والعودُ في أرضه نوعاً من الحطب
“dan biji emas tak ada bedanya dengan biji tanah saat tercampur di tempatnya, kayu gaharu terserak di tanah pun serupa dengan kayu bakar”
.
إن تغرَّب هذا عزَّ مطلبهُ وإنْ تَغَرَّبَ ذَاكَ عَزَّ كالذَّهَب
“bila kau pisahkan biji emas dari tanah, maka mulia dia dan dicari, bila kau pisahkan kayu gaharu dari kayu bakar, ia akan seharga emas”
.
sumber : http://pustakasilebah.blogspot.com/2013/10/syair-imam-asy-syafii-merantau-demi-ilmu.html

www.KiddoGifts.com

December 11, 2013 1 comment

Hidup haruslah bermanfaat, baik bagi agama, keluarga dan lingkungan. Kita hidup juga harus bermanfaat bagi diri sendiri.  Sesuai dengan lirik lagu bang iwan fals “kalau ingin bahagia, derita di dapat, karena ingin, sumber derita, keinginan adalah sumber penderitaan”.  Dengan tujuan awal ingin bahagia dalam hidup ini lah, kami (saya dan istri) membuat usaha toko online, toko online kami bergerak di bidang jual barang untuk kado atau hadiah. karena jual barang untuk kado atau hadiah itu lah, toko kami ini bernama KiddoGifts.com. Semoga Toko Online kami dapat menambah kebahagiaan, khususnya bagi kami dan keluarga besar kami. Amin Ya Allah.

Menikah… Alhamdulillah

December 11, 2013 1 comment

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah mempersatukan saya dengan istri. Pada hari Jum’at tanggal 25 Oktober 2013 sekitar jam 8 malam, saya telah mengucapkan qabul, dengan demikian resmi lah Mega Wahyuni binti Syafrudin menjadi istri saya. Sedangkan yang mengucapkan kalimat Ijab pada pernikahan kami adalah kakak kandung istri yaitu abang Rully Saputra.  Acara Ijab Qabul berlangsung lancar, tidak terjadi pengulangan, cukup sekali pengucapan dan sah.

Pada hari Sabtu, tanggal 26 Oktober 2013, bertempat di gedung Maligai Bungsu, Bangkinang, Riau, di adakan acara resepsi pada pukul 11 siang s/d 4 Sore. Alhamdulillah Lancar.

Semoga dengan pernikahan ini, akan menambah kebahagiaan baik dunia dan akhirat bagi Saya, Istri dan keluarga besar kami berdua. Amin Ya Allah.

Demikian sekilas tentang acara pernikahan kami, pada postingan berikutnya akan lebih detail.

Ijab Qabul

Ijab Qabul

Pose dengan buku nikah

Pose dengan Buku Nikah

Tukar Cincin

Tukar Cincin

Istriku

Istriku

Pelaminan 1

Pelaminan

Pelaminan

Pelaminan

Perbandingan Acara Nikah Anak Presiden RI dengan Anak Presiden Iran

November 25, 2011 1 comment

Pemimpin memberikan contoh perilaku kepada masyarakatnya, Pemimpin yang terpilih menggambarkan / mewakili masyarakat yang dipimpin, apa yang di lakukan pemimpin, kemungkinan besar akan di tiru oleh masyarakatnya. Oleh karena itu saya sebagai orang yang gak mengerti apa apa, mengharapkan pemimpin saya, memberikan contoh yang bermanfaat bagi masyarakatnya, semisal pemimpin memberikan contoh hidup sederhana agar Indonesia ini segera menjadi negara yang sejahtera, tidak perlu menjadi negara maju, negara berkembang pun sudah cukup, asalkan masyarakatnya sejahtera, damai, aman. Menjadi negara maju pun sama saja kalau negaranya tidak aman. Semoga RI menjadi negara yang sejahtera, damai dan aman. Amin Ya Allah…

Acara Nikah Anak Presiden RI

Resepsi Ibas (Anak Presiden RI - Bpk. SBY) dengan Aliya

Suasana tenda dan pelaminan resepsi akad pernikahan Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas dan Siti Rubi Aliya Rajasa atau Aliya di Istana Kepresidenan Cipanas, Jawa Barat, Kamis (24/11). ANTARA/Widodo S Jusuf

Resepsi Ibas Aliya

Resepsi Ibas Aliya

Mempelai pria Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas (kiri) menyaksikan mempelai wanita Siti Rubi Aliya Rajasa (kanan) menarikan tarian tradisional pengantin dari Palembang Pagar Pengantin saat resepsi pernikahan. ANTARA/Widodo S

Resepsi Ibas Aliya

Resepsi Ibas Aliya

Mempelai Pria Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas (ketiga kiri) dan Mempelai Wanita Siti Rubi Aliya Rajasa (ketiga kanan) berfoto bersama dengan kedua orang tua masing-masing, Presiden Yudhoyono (kiri), Ibu Ani Yudhoyono (kedua kiri), Menko Perekonomian Hatta Rajasa dan Istri.

Nonton Bareng Pernikahan Ibas Aliya

Nonton Bareng Pernikahan Ibas Aliya

Ratusan warga menonton acara prosesi akad nikah Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas dan Siti Rubi Aliya Rajasa melalui layar lebar di halaman seberang Istana Kepresidenan Cipanas, Jawa Barat, Kamis (24/11). ANTARA/Yudhistiro Pranoto

Acara Nikah Anak Presiden Iran

Seorang Blogger menulis bahwa biaya untuk membeli makanan untuk acara nikah tersebut adalah sekitar $3.500 (31 juta Rupiah), tamu laki laki yang diundang 180 orang. untuk ukuran seorang presiden ini merupakan acara yang sederhana, bahkan untuk ukuran rakyat biasa pun ini juga sederhana. untuk selengkapnya baca artikel di bawah foto-foto berikut. saya copy paste langsung dari blogger tersebut. kalau ingin lebih banyak lagi search saja di google dgn kata kunci Wedding of Ahmadinejad Son.

Wedding of  Ahmadinejad Son

Wedding of Ahmadinejad Son

Wedding of  Ahmadinejad Son

Wedding of Ahmadinejad Son

Wedding of Ahmadinejad Son

Wedding of Ahmadinejad Son

Wedding of Ahmadinejad Son

Wedding of Ahmadinejad Son

Wedding of Ahmadinejad Son

Wedding of Ahmadinejad Son

Blogger Javad Matin, a supporter of Iranian President Mahmud Ahmadinejad, has written in his blog about the wedding of Ahmadinejad’s second son, Alireza Ahmadinejad.

The event Matin describes is a far cry from the usual lavish wedding ceremonies one sees in the Iranian capital.

Excerpts from Matin’s blog post:

It was Wednesday evening when my cellphone rang and I was invited to the wedding ceremony of my good friend Alireza, which was taking place the following night.

I knew that during Ghadir Eid [an Islamic holiday] the family had gone to the Beyt [a term often used to refer to the office of Iran’s Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei] and he had been wedded to the niece of martyr Kaveh [Iranian soldiers, Revolutionary Guards, and Basij members who were killed in the war with Iraq are routinely referred to as martyrs].

On Thursday night at 9 p.m. I went to the cultural club of the presidential office. Outside the club, everything was so normal that I thought I had perhaps come to the wrong place.

It didn’t seem like the wedding of the son of the president was being held there. I entered the garden and realized that I had to give up my cellphone.

A group of people had lined up to say their first prayers. I entered the hall. A number of tables were empty as the guests seated there had gone to pray.

Fruit and cakes, a bottle of mineral water, some plates and knives was all that had been laid out on the tables for the guests.

I asked about “the doctor.” [“The doctor” is how some of Ahmadinejad’s supporters refer to him because of his Ph.D. in civil engineering and traffic transportation management.]

I was told he was praying in the back court.

Because of the lack of space, some of the guests had gone to the back court. I prayed with [senior presidential aide] Mojtaba Samareh Hashemi. Then I went back to the hall.

The doctor was sitting at the first table next to the father of the bride. After warm greetings with him and some of the other officials, I sat at one of the tables.

The groom entered the hall. He said hello to each of the guests and sat next to the doctor and [the father of the bride] Haj Agha Akbari.

The head of the club, Mr. Kheirkhah, told me how the doctor had been attentive about the details of the reception.

He told me that he had ordered only one type of food and that he had paid 3.5 million tomans [approximately $3,500] for the cost of the reception.

He said the number of male guests was 180. Looking around, I saw very few state officials. I had been to weddings of public servants before and there had not only been lots of lavish spending but also many ministers and state officials in attendance.

Maybe I was expecting officials to have lined up there that night with 1,000 guests.

A satirical cartoon called “The Population Temptation of Ahmadinejad,” which lampoons the Iranian president’s “subsidy” policies aimed at encouraging an increase in the country’s birth rate.

But what I actually saw was a simple, simple wedding. It was a people’s reception, because the father of the groom was a man of the people.

Simplicity reigned everywhere at the party. This was evident in the way the guests were hosted. It could also be seen in the car used to transport the bride and the [wedding] banquet itself, which was simple but delicious and fragrant.

The emcee at the reception poked fun at Alireza over the subsidies and the 1 million tomans his future child would receive, which made the doctor smile.

The ceremony ended; the doctor and the bride’s father stood in front of the gate to say farewell to the guests.

It was interesting to see how the doctor dealt with 7- and 8-year-old kids who were shouting “Uncle! Uncle!” at him. He would give them a hug and treat them kindly.

Everyone left and the doctor went to the kitchen to thank those who had been working at the reception.

When everyone had gone, the bride and groom got into their car without any additional formalities and went home with their families.

I send my congratulations to my dear friend Alireza, the doctor, his respected family, and also the family of the great martyr Mahmoud Kaveh. May they have a good life under the shadow of the Hidden Imam.

Source : http://origin.rferl.org/content/the_simple_simple_wedding_of_ahmadinejads_son/24246585.html

Bung Hatta & Sepatu Bally yang Tak Pernah Terbeli

November 17, 2011 2 comments
 

Bung Hatta

Bung Hatta

Jakarta – Dandanan mentereng, rumah, dan mobil mewah agaknya sudah menjadi gaya hidup para pejabat saat ini. Masyarakat pun kembali merindukan figur-figur pemimpin yang sederhana dan pantas untuk dijadikan teladan.

Suatu hari, di tahun 1950, Wakil Presiden Muhammad Hatta pulang ke rumahnya. Begitu menginjakkan kaki di rumah, ia langsung ditanya sang istri, Ny Rahmi Rachim, tentang kebijakan pemotongan nilai mata ORI (Oeang Republik Indonesia) dari 100 menjadi 1.

Pantas saja hal itu ditanyakan, sebab, Ny Rahmi tidak bisa membeli mesin jahit yang diidam-idamkannya akibat pengurangan nilai mata uang itu. Padahal, ia sudah cukup lama menabung untuk membeli mesih jahit baru. Tapi, apa kata Bung Hatta?

“Sunggguhpun saya bisa percaya kepadamu, tetapi rahasia ini tidak patut dibocorkan kepada siapa pun. Biarlah kita rugi sedikit, demi kepentingan seluruh negara. Kita coba menabung lagi, ya?” jawab Bung Hatta.

Kisah mesin jahit itu merupakan salah satu contoh dari kesederhanaan hidup proklamator RI Bung Hatta (1902-1980) dan keluarganya. Sejak kecil, Bung Hatta sudah dikenal hemat dan suka menabung. Akan tetapi, uang tabungannya itu selalu habis untuk keperluan sehari-hari dan membantu orang yang memerlukan.

Saking mepetnya keuangan Bung Hatta, sampai-sampai sepasang sepatu Bally pun tidak pernah terbeli hingga akhir hayatnya. Tidak bisa dibayangkan, seorang yang pernah menjadi nomor 2 di negeri ini tidak pernah bisa membeli sepasang sepatu. Mimpi itu masih berupa guntingan iklan sepatu Bally yang tetap disimpannya dengan rapi hingga wafat pada 1980.

 
Sepatu Bally Impian Bung Hatta

Sepatu Bally Impian Bung Hatta

Bung Hatta baru menikah dengan Ny Rahmi 3 bulan setelah memproklamasikan kemerdekaan RI bersama Bung Karno atau tepatnya pada 18 November 1945. Saat itu, ia berumur 43 tahun. Apa yang dipersembahkan Bung Hatta sebagai mas kawin? Hanya buku “Alam Pikiran Yunani” yang dikarangnya sendiri semasa dibuang ke Banda Neira tahun 1930-an.

Setelah mengundurkan diri dari jabatan Wapres pada tahun 1956, keuangan keluarga Bung Hatta semakin kritis. Uang pensiun yang didapatkannya amat kecil. Dalam buku “Pribadi Manusia Hatta, Seri 1,” Ny Rahmi menceritakan, Bung Hatta pernah marah ketika anaknya usul agar keluarga menaruh bokor sebagai tempat uang sumbangan tamu yang berkunjung.

Ny Rahmi mengenang, Bung Hatta suatu ketika terkejut menerima rekening listrik yang tinggi sekali. “Bagaimana saya bisa membayar dengan pensiun saya?” kata Bung Hatta. Bung Hatta mengirim surat kepada Gubernur DKI Ali Sadikin agar memotong uang pensiunnya untuk bayar rekening listrik. Akan tetapi, Pemprov DKI kemudian menanggung seluruh biaya listrik dan PAM keluarga Bung Hatta.

Bung Hatta adalah pendiri Republik Indonesia, negarawan tulen, dan seorang ekonom yang handal. Di balik semua itu, ia juga adalah sosok yang rendah hati. Sifat kesederhanaannya pun dikenal sepanjang masa. Musisi Iwan Fals mengabadikan kepribadian Bung Hatta itu dalam sebuah lagu berjudul “Bung Hatta”.

Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkapal doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu

Bung Hatta dan Keluarga

Bung Hatta dan Keluarga

(irw/asy)

Sumber : detiknews  – 15 Nov 2011