Jamuan Tuhan

October 15, 2016 Leave a comment

allah

Suatu malam, Rasulullah saw. berbisik kepada Aisyah, “Apakah kamu rela pada malam (giliranmu) ini, aku beribadah?”

“Aku sungguh senang berada di sampingmu selalu, tetapi aku pun rela dengan apa yang engkau sukai,” sahut Aisyah.

Rasul saw. kemudian bangkit untuk berwudhu – tidak banyak air yang digunakan – lalu beliau shalat dengan membaca Al-Qur’an, sambil menangis sampai membasahi (ikat) pinggangnya. Selesai shalat, beliau duduk memuji Allah, air matanya masih bercucuran sehingga membasahi pula lantai tempat duduknya. Demikian cerita Aisyah.

“Tidak biasa Rasul terlambat ke masjid untuk shalat (sebelum) subuh, ada apa gerangan yang terjadi?” tambah bilal. Maka kemudian didatangilah rasul, dan ditemuinya beliau sedang menangis.

“Mengapa engkau menangis, wahai Rasul? Bukankah Allah telah mengampuni dosamu?” tanya Bilal.

Betapa aku tidak menangis. Semalam telah turun kepadaku wahyu: sesunnguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah, sambil berdiri, duduk atau berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata:) ’Ya Tuhan kami, tidaklah engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, peliharalah kami dari siksa neraka’ (QS 3:190-191)

Rasul saw. kemudian berkata kepada Bilal, “Rugilah yang membacanya tapi tak menghayati kandungannya.”

Orang berakal menggunakan potensinya untuk memahami ayat-ayat Tuhan yang tertulis di dalam mushaf atau terbentang di alam raya. Mereka tidak menempatkan diri di menara gading, tidak juga berpikir terlepas dari Allah, juga tidak membatasi ingatan kepada-Nya hanya pada waktu-waktu tertentu. Berdiri, duduk, dan berbaring sekalipun, mereka mengingat-Nya. Usaha tidak hanya sampai pada pemahaman, tetapi pengakuan tentang “hak” yang mewarnai seluruh ciptaan Allah. Pengakuan ini kemudian menghasilkan amal dan karya-karya besar. Pemahaman tanpa pengakuan adalah kejahilan, pengakuan tanpa pengamalan sama dengan kesesatan.

“Ayat-ayat adalah jamuan Allah.” Demikian sabda Nabi saw. Allah mengundang manusia untuk menelaah ayat-ayat-Nya. Menghadiri undangan-Nya berarti menikmati “santapan”-Nya. Kenikmatan makanan dalam suatu perjamuan akan semakin terasa dengan kehadiran teman-teman yang berbudi. Demikian pula dengan jamuan Tuhan. Ada etika dan tatacara makan yang baik yang harus dipatuhi oleh setiap orang terhormat, demikian pula dengan undangan Tuhan.

Mengecap citarasa makanan menjadi tujuan awal memenuhi undangan, tetapi ada tujuan utama dari si pengundang yang harus disadari oleh para undangan agar terjalin hubungan mesra antara kedua pihak.

Ayat-ayat yang dibaca atau dilihat yang merupakan “jenis-jenis makanan” yang di hidangkan bukan hanya untuk dinikmati oleh para undangan sendirian, “Makanlah yang terjangkau oleh tangan kananmu dan ulurkan makanan itu kepada yang tidak menjangkaunya,” pesan Allah. Ini berarti ada tanggung jawab untuk memberi sesuatu kepada orang lain.

Pengetahuan saja tidak cukup, pengakuan pun masih kurang, buahnya harus ada untuk diri sendiri dan dibagikan pula kepada orang lain. Rugilah yang tidak menghadiri jamuan yang mewah ini, tetapi lebih rugi lagi yang menghadirinya tanpa menikmati hidangannya, sedangkan yang menikmati sendirian amat tercela.[]

Sumber : Lentera Hati: kisah dan hikmah kehidupan / M. Quraish Shihab, -Bandung:Mizan,1994. hlm 45-47

Hari Raya Penyempurnaan Agama

October 15, 2016 Leave a comment

1-al-masjid-al-haram-makkah-saudi-arabia11

Ketika Nabi saw. wuquf (berada di arafah) bertepatan dengan hari raya umat Yahudi dan Nasrani. Pada saat itu tibalah wahyu terakhir kepada Nabi Muhammad saw. : Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku untukmu dan telah Kuridhai Islam (penyerahan diri) menjadi agama untukmu (QS 5:3). Demikian terjemahan menurut Tim Depag.

Menarik sekali untuk dipahami dan dihayati berkaitan dengan wahyu terakhir yang turun pada saat umat Islam merayakan Idul Adha. Misalnya, arti akmaltu yang diterjemahkan dengan “Kusempurnakan”, dan atmamtu yang di terjemahkan dengan “Kucukupkan”.

Saya tidak tahu persis apa perbedaan antara kedua kata tersebut dalam bahasa Indonesia. Tetapi, Al-Qur’an menggunakan keduanya untuk makna yang sama tapi tidak serupa. Akmaltu diartikan dengan “Menghimpun banyak hal yang kesemuanya sempurna dalam satu wadah yang utuh.” Sedangkan atmamtu diartikan dengan “Menghimpun banyak hal yang belum sempurna sehingga menjadi sempurna.”

“Agama” disempurnakan, sedangkan “nikmat” dicukupkan, seperti halnya dalam bahasa terjemahan di atas. Ini berarti bahwa petunjuk-petunjuk agama yang beraneka ragam itu kesemuanya dan masing-masingnya telah sempurna. Jangan menduga petunjuk sholat, zakat, nikah, jual beli, dan sebagainya yang disampaikan oleh Al-Qur’an masih mempunyai kekurangan-kekurangan. Semua telah sempurna dan dihimpun dalam satu wadah yaitu din atau yang dinamai dengan agama Islam.

“Nikmat” telah dicukupkan, memang banyak nikmat Tuhan, misalnya, kesehatan, kekayaan, pengetahuan, keturunan, dan sebagainya. Tetapi, jangan menduga masing-masing telah sempurna. Kesemuanya ini, walaupun digabungkan, masih akan kurang. Baru sempurna apabila ia dihimpun bersama dengan apa yang turun dari langit berupa petunjuk-petunjuk Ilahi. Petunjuk-petunjuk itulah – ketika digabungkan dengan anugerah-anugerah semacam kesehatan, kekayaan dan sebagainnya – yang menjadikannya nikmat-nikmat yang sempurna. Bila anda memperoleh kekayaan tanpa agama, maka betapapun banyaknya ia tetap akan kurang, demikian pula yang lain.

Din (agama) dan dain (utang) adalah dua kata dari akar yang sama, yang mempunyai kaitan makna yang sangat erat. Beragama berarti usaha mensyukuri anugerah-anugerah Tuhan. Dengan kata lain, membayar “utang” dan “budi baik” Tuhan kepada kita. Sayang, kita tidak mampu membayar tuntas dan sempurna, karena terlalu banyaknya anugerah tersebut, sampai-sampai kita tidak dapat lagi menghitungnya. Maka untuk menampakkan itikad baik kita kepada-Nya, kita datang menghadap dan menyerahkan apa yang kita miliki sambil berkata: “Ya Allah aku tak mampu membayar utangku, karenanya aku datang menyerahkan wajahku kepada-Mu, Aslamtu wajhi ilaika.” Inilah Islam, dalam arti penyerahan diri kepada Allah.

Syukurlah, Allah menerima pembayaran yang demikian, dan dinyatakan secara resmi penerimaan tersebut dalam wahyu terakhir itu: Telah Kuridhai (kuterima dengan puas dan senang) Islam (penyerahan dirimu) sebagai agama (pembayaran utang).[]

Sumber : Lentera Hati: kisah dan hikmah kehidupan / M. Quraish Shihab, -Bandung:Mizan,1994. hlm 42-44

Perintah Membaca

October 15, 2016 Leave a comment

iqra

Bulan Ramadhan dikenal juga dengan nama “Bulan Iqra’”, karena itulah diturunkan wahyu pertama Al-Qur’an yang membawa iqra’ atau perintah membaca. Sedemikian penting perintah ini sampai-sampai ia diulangi dua kali dalam rangkaian wahyu pertama (QS 96:1 dan 3).

Boleh jadi ada yang heran, mengapa dan bagaimana perintah itu ditujukan kepada orang yang tidak pandai membaca suatu tulisan pun sampai akhir hayatnya. Namun, keheranan itu akan sirna jika disadari arti iqra’ atau disadari bahwa perintah itu tidak hanya ditujukan kepada pribadi Nabi Muhammad saw. tetapi juga untuk umat manusia seluruhnya.

Kata iqra’ diambil dari kata qara’a yang pada mulanya berarti “menghimpun”. Dalam berbagai kamus dapat ditemukan beraneka ragam arti kata tersebut, antara lain, “menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu”, dan sebagainya.

Iqra’!” demikian perintah Tuhan yang disampaiakan oleh malaikat Jibril. Tetapi, “ma aqra’?” (apa yang harus saya baca?), demikian pertanyaan Nabi dalam suatu riwayat. Kita tidak menemukan tentang suatu objek perintah tersebut dari redaksi wahyu pertama ini. Karena perintah membaca dalam redaksi wahyu di atas tidak dikaitkan dengan satu objek tertentu. Dari sini dapat disimpulkan bahwa objek bersifat umum, mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh kata “baca” dengan makna-makna yang disebut di atas.

Membaca, menelaah, meneliti, menghimpun, mengetahui ciri segala sesuatu, termasuk alam raya, kitab suci, masyarakat, koran, majalah, dan apapun. Tetapi ingat, kesemuanya ini harus dikaitkan dengan “bismi rabbika” (demi karena Allah), seperti bunyi lanjutan tersebut.

Kemudian sekali lagi iqra’ diperintahkan, tetapi pada yang kedua kali ini dirangkaikan dengan wa rabbuka al-akram (tuhanmu yang maha pemurah) – kemurahannya tidak terbatas. Di sini Allah menjanjikan siapapun yang membaca “demi karena Allah” maka ia akan memperoleh kemurahan anugerah-Nya berupa pengetahuan, pemahaman, dan wawasan baru walaupun objek bacaannya sama.

Apa yang dijanjikan ini terbukti secara sangat jelas dalam “membaca” ayat Al-Qur’an, yaitu dengan adanya penafsiran baru atau pengembangan pendapat terdahulu, walaupun ayat yang dibaca itu-itu juga. Hal ini terbukti pula dalam hal “membaca” alam raya dengan bermunculannya dari waktu ke waktu penemuan-penemuan baru.

Demikian perintah membaca merupakan perintah paling berharga yang pernah dan yang dapat diberikan kepada umat manusia.

Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa ”membaca” adalah syarat pertama guna membangun peradaban. Semakin mantap bacaan semakin tinggi pula peradaban, demikian pula sebaliknya. Tidak mustahil pada suatu ketika “manusia” akan didefinisikan sebagai “makhluk membaca”, suatu definisi yang tidak kurang nilai kebenarannya dari definisi-defini lainnya semacam “makhluk sosial” atau “makhluk berpikir”.

Kini, masalahnya, adakah minat baca dalam diri kita? Kalau ada, tersediakah bahan bacaan yang sesuai? Kalau tersedia, terjangkaukah oleh saku kita? Kalau terjangkau, apakah masih tersisa waktu untuk membaca?[]

Sumber : Lentera Hati: kisah dan hikmah kehidupan / M. Quraish Shihab, -Bandung:Mizan,1994. hlm 39-41

Muhammad saw.

October 14, 2016 Leave a comment

muhammad

Wahai seluruh manusia, telah datang kepadamu sekalian bukti kebenaran dari Tuhanmu (yakni Muhammad), dan telah kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (QS 4:174).

Betapa Muhammad saw. telah menjadi bukti kebenaran. Beliau dilahirkan yatim dan dibesarkan dalam keadaan miskin. Dia juga tidak pandai membaca dan menulis serta hidup dalam lingkungan yang terbelakang. Namun demikian, tidak satupun faktor negatif itu membawa dampak terhadap dirinya. Bahkan sebaliknya, beliau dinilai oleh banyak ahli dari berbagai disiplin ilmu dan dengan beraneka macam tolok ukur sebagai manusia terbesar sepanjang sejarah kemanusiaan.

Thomas Carlyle dengan tolok ukur “kepahlawanan”, Marcus Dods dengan “keberanian moral”, Nazmi Luke dengan “metode pembuktian ajaran”, Will Durrant dengan “hasil karya”, dan Michael H. Hart, dengan “pengaruh yang ditinggalkan”. Kesemua ahli non muslim ini – dan masih banyak lagi lainnya, walaupun dengan tolok ukur yang berbeda-beda berkesimpulan bahwa Muhammad saw. adalah manusia luar biasa. Namun demikian, beliau adalah orang yang sangat sederhana.

Harta Nabi yang paling mewah adalah sepasang alas kaki berwarna kuning yang merupakan hadiah dari Negus dari Abissinia. Beliau tinggal di satu pondok kecil beratapkan jerami yang tingginya dapat dijangkau oleh seorang remaja. Kamar-kamarnya dipisahkan oleh batang-batang pohon yang diikatkan dengan lumpur bercampur kapur. Beliau sendiri yang menyalakan api, mengepel lantai, memerah susu, dan menjahit alas kakinya yang putus. Santapannya yang paling mewah – meskipun jarang dinikmatinya – adalah madu, susu, dan lengan kambing. Demikianlah keadaan beliau walaupun setelah menguasai seluruh Jazirah Arabia.

Kelakuannya secara umum tenang dan tenteram. Beliau gagah berani, namun memiliki senyuman yang sangat memikat, bahkan dalam hal-hal tertentu beliau lebih pemalu daripada gadis-gadis pingitan. Kemampuan intelektualnya tidak diragukan, daya imajinasinya sangat tinggi, dan ekspresinya sangat dalam. Beliau dikenal sebagai seniman bahasa dikalangan para sastrawan. Di atas semuanya, pengabdiannya kepada Tuhan serta keyakinan akan kehadiran-Nya tidak pernah terabaikan.

Demikianlah terkumpul secara sempurna keempat tipe manusia dalam pribadi manusia agung ini:pekerja, pemikir, pengabdi, dan seniman.

Akhlak dan tata cara pergaulannya sangat luhur. Diulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan tidak dilepasnya sebelum yang dijabat tangan melepaskannya. Beliau tidak pernah mengulurkan kaki di hadapan teman-temannya yang sedang duduk. Beliau berjalan dengan penuh dinamisme, bagaikan “turun dari satu dataran tinggi”. Beliau menoleh dengan seluruh badannya, menunjuk dengan seluruh jarinya, berbicara perlahan dengan menggunakan dialek mitra bicaranya sambil sesekali menggigit bibirnya, menggelengkan kepalanya dan menepuk-nepuk dengan jari telunjuk ke telapak tangan kanan-nya.

Cetusan yang paling buruk dalam percakapannya adalah: “Apa yang terjadi dengan orang itu? Semoga dahinya berlumuran lumpur.”

Seorang muslim akan kagum kepada beliau dengan kekaguman berganda. Sekali waktu memandangnya dengan kacamata agama dan dilain kali melihatnya dengan kacamata kemanusiaan. Mustahil rasanya, mereka mempelajari kehidupan dan karakter manusia ini, hanya sekedar kagum dan hormat kepadanya. Beliau adalah bukti kebenaran dari hakikat Wujud Yang Mahabenar. Semoga rahmat Ilahi selalu tercurah kepada beliau.[]

Sumber : Lentera Hati: kisah dan hikmah kehidupan / M. Quraish Shihab, -Bandung:Mizan,1994. hlm 36-38

Rahmat bagi Seluruh Alam

October 14, 2016 Leave a comment

rahmatan-lil-alamin

Pada minggu kedua bulan Rabi’ul Al-Awwal Tahun Gajah yang bertepatan dengan bulan April 580 M, di Makkah lahirlah seorang anak manusia dalam keadaan yatim. Nama anak inilah yang hingga kini disebut sebut oleh ratusan juta manusia disertai dengan decakan kekaguman. Beliau adalah Muhammad saw.

Dengan budi luhur, ilmu pengetahuan, sikap kesatria, dan ketekunan, beliau menyebarluaskan rahmat dan kasih bagi seluruh alam.

Dengan rahmat tersebut, terpenuhilah hajat batin manusia menuju ketenangan, ketentraman, dan pengakuan atas wujud, hak, bakat, dan fitrahnya sebagaimana terpenuhi pula hajat keluarga kecil dan besar akan perlindungan, bimbingan, pengawasannya serta saling pengertian dan perdamaian.

Rahmat tersebut bukan hanya dirasakan oleh pengikut-pengikutnya, bahkan bukan hanya manusia. Sebelum Eropa mengenal Organisasi Pencinta Binatang, Muhammad saw. telah mengajarkan : “apabila kalian mengendarai binatang, berikanlah haknya, dan janganlah menjadi setan-setan terhadapnya.”

“Seoarng wanita dimasukkan Tuhan ke neraka dikarenakan ia mengurung seekor kucing, tidak diberinya makan, dan juga tidak dilepaskan untuk mencari makan sendiri.”

Sebaliknya, pada saat yang lain beliau bersabda: “Seorang yang bergelimang di dalam dosa diampuni Tuhan karena memberi minum seekor anjing yang kehausan.”

Sebelum dunia mengenal istilah “kelestarian lingkungan”, manusia agung ini telah menganjurkan untuk hidup bersahabat dengan alam. Tidak dikenal istilah penundukan alam dalam ajarannya, karena istilah ini dapat mengantarkan manusia kepada sikap sewenang-wenang, penumpukan tanpa batas tanpa pertimbangan pada asas kebutuhan yang diperlukan. Istilah yang digunakan oleh beliau adalah “Tuhan memudahkan alam untuk dikelola manusia” (Lihat QS 14:32). Pengelolaan ini disertai dengan pesan untuk tidak merusaknya, bahkan mengantarkan setiap bagian dari alam ini untuk mencapai tujuan penciptaannya. Karena itu, terlarang dalam ajarannya menjual buah yang mentah, atau memetik kembang yang belum mekar. “Biarkan semua bunga mekar agar mata menikmati keindahannya dan lebah mengisap sarinya.”

Rahmat yang dibawanya bahkan menyentuh benda-benda yang tak bernyawa. Beliau sampai sampai memberi nama untuk benda benda yang dimilikinya. Perisai yang dimilikinya diberi nama Dzat Al-Fudhul, pedangnya diberi nama Dzulfikar, pelananya dinamai Al-Daj, tikarnya dinamai Al-Kuz, cerminnya dinamai Al-Midallah, gelasnya dinamai Al-Shadir, tongkatnya dinamai Al-Mamsyuk, dan lain-lain, semuanya di beri nama-nama yang indah dan penuh arti seakan akan benda-benda yang tak bernyawa tersebut mempunyai kepribadian yang juga membutuhkan uluran tangan, pemeliharaan, persahabatan, rahmat, dan kasih sayang.

Jika ada yang bertanya, “Terasakah rahmat kasih sayang dengan segala aspeknya itu dalam kehidupan bermasyarakat umat?” Entah jawaban anda, tetapi kalau kita menoleh ke Dunia Islam, rasanya menggeleng lebih tepat daripada mengangguk. Mungkin sebagian sebabnya adalah karena sikap mental saya, anda, dan banyak diantara kita yang benar-benar belum terbentuk sesuai dengan pola yang dikehendaki oleh ajaran yang dibawa oleh manusia agung ini. Atau karena ajaran-ajaran yang kita praktekkan baru terbatas pada segi-segi ritual dan belum menyentuh dari segi-segi sosial dan ekonomi. Kalaupun tersentuh, belum dilaksanakan secara teratur, terorganisir, dan bersama-sama. Memang, kita sudah sangat pandai memohon rahmat (kepada Tuhan dan sesama manusia), tetapi kita belum mampu meraihnya, apalagi membaginya.[]

Sumber : Lentera Hati: kisah dan hikmah kehidupan / M. Quraish Shihab, -Bandung:Mizan,1994. hlm 33-35

Memfungsikan Al-Qur’an

October 14, 2016 Leave a comment

MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran), yang memperlombakan beberapa segi kemahiran dalam bidang Al-Quran, sudah merupakan tradisi positif yang sudah dilembagakan oleh pemerintah. Tidak diragukan besarnya perhatian pemerintah dan masyarakat menyangkut penyelenggaraan MTQ. Tidak kecil pula dana dan daya yang dikerahkan untuk mensukseskannya. Dampak postif dari perlombaan perlombaan tersebut dapat dirasakan baik ditingkat nasional maupun internasional. Namun demikian, disadari pula sisi yang terpenting dari kehadiran Al-Quran belum banyak dirasakan dalam pentas kehidupan bermasyarakat.

Al-Quran memeperkenalkan dirinya sebagai hu-dan li al-nas (petunjuk untuk seluruh manusia). Inilah fungsi utama kehadirannya. Dalam rangka penjelasan tentang fungsi Al-Quran ini, Allah menegaskan: Kitab Suci diturunkan untuk memberi putusan (jalan keluar) terbaik bagi problem problem kehidupan manusia (QS 2:213). Kita yakin bahwa para sahabat Nabi Muhammad saw., seandainya hidup pada saat ini, pasti akan memahami petunjuk petunjuk Al-Quran – sedikit atau banyak – berbeda dengan pemahaman mereka sendiri yang telah tercatat dalam literatur keagamaan. Karena pemahaman manusia terhadap sesuatu tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengalaman-pengalaman, disamping kecendrungan dan latar belakang pendidikannya.

Tantangan besar yang dihadapi oleh umat Islam, khususnya cendekiawan muslim, adalah bagaimana memfungsikan Kitab Suci ini, yaitu bagaimana menangkap pesan-pesannya dan memasyarakatkannya, bagaimana memahami dan melaksanakan petunjuk petunjuknya tanpa mengabaikan – apalagi mengorbankan – budaya dan perkembangan positif masyarakat. Sebagian umat kita memfungsikan Al-Quran sebagai mukjizat, padahal fungsinya sebagai mukjizat hanya ditujukan kepada yang meragukannya sebagai Firman Allah. Sikap semacam ini antara lain mengantarkan kita pada usaha mencari cari ayat Al-Quran untuk dijadikan bukti bahwa Kitab Suci ini telah mendahului penemuan penemuan ilmiah abad modern – suatu usaha yang tidak jarang “memperkosa” ayat-ayat itu sendiri.

Di sisi lain, kemukjizatannya dipahami oleh sebagian umat sebagai keampuhan ayat-ayat Al-Quran untuk melahirkan hal-hal yang tidak rasional. Ini bukan berarti saya mengingkari adanya hal-hal yang bersifat suprarasional atau supranatural. Hanya saja, umat harus disadarkan bahwa benang yang memisahkan suprarasional dengan irasional amatlah tipis, sehingga jika tidak waspada, seseorang dapat terjerumus ke lembah khurafat (takhayul). Lebih-lebih lagi kalau di ingat bahwa Al-Quran sendiri menegaskan bahwa al-imdad al-ghaiby, yang di dalamnya terdapat segala macam yang supra itu, tidak mungkin akan tiba tanpa didahului usaha manusia yang wajar, rasional, dan natural.[]

Sumber : Lentera Hati: kisah dan hikmah kehidupan / M. Quraish Shihab, -Bandung:Mizan,1994. hlm 30-32

Bukti Kebenaran Al-Qur’an

October 14, 2016 Leave a comment

quran-reflecions-day-6

Adakah mushaf Al-Qur’an di setiap rumah keluarga muslim? Di duga jawabannya adalah “tidak”! Apakah anggota keluarga Muslim yang memiliki mushaf telah mampu membaca Kitab Suci ini? Diduga keras jawabannya adalah “belum”! Apakah setiap muslim yang mampu membaca Al-Quran mengetahui garis besar kandungannya serta fungsi kehadirannya di tengah tengah umat? Sekali lagi, jawaban yang diduga serupa dengan yang sebelum-sebelumnya.

Kitab Suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. antara lain dinamai Al-Kitab dan Al-Quran (bacaan yang sempurna), walaupun penerima dan masyarakat pertama yang ditemuinya tidak mengenal baca-tulis. Ini semua, dimaksudkan, agar mereka dan generasi berikutnya membacanya. Fungsi utama Al-Kitab adalah memberikan petunjuk. Hal ini tidak dapat terlaksana tanpa membaca dan memahaminya.

Dari celah-celah redaksinya ditemukan tiga bukti kebenaran. Pertama, keindahan, keserasian dan keseimbangan kata-katanya. Kata yaum yang berarti “hari”, dalam bentuk tunggalnya terulang sebanyak 365 kali (ini sama dengan satu tahun), dalam bentuk jamak diulangi sebanyak 30 kali (ini sama dengan satu bulan). Sementara itu, kata yaum yang berarti “bulan” hanya terdapat 12 kali. Kata panas dan dingin masing masing diulangi sebanyak empat kali, sementara dunia dan akhirat, hidup dan mati, setan dan malaikat, dan masih banyak lainnya, semuanya seimbang dengan jumlah yang serasi sesuai dengan tujuannya dan indah kedengarannya.

Kedua, pemberitaan gaib yang diungkapkannya. Awal surah Al-Rum menegaskan kekalahan Romawi oleh Persia pada tahun 614: Setelah kekalahan, mereka akan menang dalam masa sembilan tahun disaat mana kaum mukminin akan bergembira. Dan itu benar adanya, tepat pada saat kegembiraan kaum Muslim memenangkan Perang Badar pada tahun 622, bangsa Romawi memperoleh kemenangan melawan Persia. Pemberitaannya tentang keselamatan badan Fir’aun yang tenggelam dilaut merah 3.200 tahun yang lalu, baru terbukti setelah muminya (badannya yang diawetkan) ditemukan oleh Loret di Wadi Al Muluk Thaba, Mesir, pada tahun 1896 dan dibuka pembalutnya oleh Eliot Smith 8 Juli 1907. Mahabenar Allah yang menyatakan kepada Fir’aun pada saat kematiannya: Hari ini Kuselamatkan badanmu supaya kamu menjadi pelajaran bagi generasi sesudahmu (QS 10:92).

Ketiga, isyarat-isyarat ilmiahnya sungguh mengagumkan ilmuwan masa kini, apa lagi yang menyampaikannya adalah seorang ummi yang tidak pandai membaca dan menulis serta hidup dilingkungan masyarakat terbelakang. Bukti kebenaran (mukjizat) rasul rasul Allah bersifat suprarasional. Ketika masyarakatnya meminta bukti selain nya, Tuhan berpesan agar mereka mempelajari Al-Quran (lihat QS 29:50). Sungguh disayangkan bahwa tidak sedikit umat Islam dewasa ini bukan hanya tak pandai membaca Kitab Sucinya, tetapi juga tidak memfungsikannya, kecuali sebagai penangkal bahaya dan pembawa manfaat dengan cara cara yang irasional.

Rupanya, umat generasi inilah antara lain yang termasuk diadukan oleh Nabi Muhammad : Wahai Tuhan, sesungguhnya umatku telah menjadikan Al-Quran sesuatu yang tidak dipedulikan (QS 25:30).

Tahap pertama untuk mengatasi kekurangan dan kesalahan diatas adalah meningkatkan kemampuan baca Al-Quran. Janganlah anak-anak kita disalahkan jika kelak dikemudian hari mereka pun mengadu kepada Allah, sebagaimana ditemukan dalam sebuah riwayat. “Wahai Tuhanku, aku menuntut keadilan-Mu terhadap perlakuan orangtuaku yang aniaya ini.”[]

Sumber : Lentera Hati: kisah dan hikmah kehidupan / M. Quraish Shihab, -Bandung:Mizan,1994. hlm 27-29