Final Cek Transformer Medium Voltage (10MVA) Sebelum Energize

October 4, 2017 Leave a comment


Setelah dilakukan pengecekan fungsi kontrol, proteksi, torque Connection , dsb, langkah berikutnya untuk meyakinkan tidak ada kabel yang cross atau grounded dsb adalah dengan cara injeksi tegangan. Sesuai spesifikasi, Transfomer yang akan di energize memiliki kapasitas 10MVA, tegangan sisi primer 13,8kV, sisi sekunder 4160V dan sisi Tertier 480V.

Sebelum sisi primer di beri tegangan 13,8kV, maka dilakukan injeksi sisi primer dengan tegangan 480V- 3 Phasa. Injeksi tegangan bisa menggunakan kabel minimal 14 AWG. Harus di pastikan, kapasitas breaker maksimal 0,8 x ampacity kabel, bila menggunakan kabel 14 AWG (15Amp) maka breaker nya maksimal 10A, hal ini untuk menjaga apabila kabel koneksi dari transformer bermasalah / cross / grounded maka kabel temporary injeksi terlindungi oleh breaker.

 Dari pengalaman injeksi yang kami lakukan, besaran arus yang mengalir dalam temporary kabel saat injeksi transformer 10MVA adalah 0,1 A.

 Manfaat dari injeksi tegangan:

  1. Memastikan tidak ada kabel Cross antar phasa
  2. Mengetahui ratio winding. Setelah injeksi primer 480V – 3 Phasa, hasil pengukuran sisi sekunder dan sisi tersier harus sesuai ratio winding.
  3. Mengetahui phase rotation
  4. Memastikan tidak ada kabel yang grounded di transformer ataupun koneksinya.
Advertisements

Nikmat Iman dan Nikmat Sehat

April 15, 2017 Leave a comment

Terkadang kita merasa bahwa kita telah berbuat baik kepada Allah, tetapi Allah belum memberi kita kebaikan. Pemikiran seperti itu hendaknya di rubah, justru Allah lah yg memberi kita nikmat iman, sehingga kita tidak tersesat dan selalu berbuat baik. Logika sederhana, dan semua orang berakal pasti memilikinya, bila kita inginkan sesuatu, pasti harus ada usaha / pengorbanan. Klo kita ingin pandai, ya mesti berkorban waktu dan tenaga untuk belajar. Klo kita ingin sehat, ya kita mesti makan makanan yg sehat dan rajin olah raga. klo kita ingin surga nya Allah, ya mesti kita harus beramal baik. Masuk logika kah bila kita suka berbuat maksiat dan jarang beribadah akan masuk surganya Allah. Pertanyaan sederhana berikutnya, apakah berbuat maksiat itu memerlukan usaha yg keras?

.
Cuplikan ceramah Ust Dr. Syafiq Reza Basalamah:

Ada seorang pemuda di Saudi, pemuda ini di penjara karena berhutang sekitar 750rb riyal (Rp2,5M), pemuda ini mendapat kunjungan dari salah seorang syaikh di arab, dia mengatakan kepada syaikh tersebut kalau dia ingin bunuh diri, karena syaikh ini kaya, syaikh itu bilang dan menawarkan kepada pemuda itu, jangan lah kamu bunuh diri, kamu akan sy beri 1jt riyal, mendengar ucapan syaikh tersebut, senanglah hati si pemuda. Lalu syaikh tersebut melanjutkan ucapannya kepada pemuda tersebut, uang 1jt riyal ini ada syaratnya, pemuda itu menjawab, ya Syaikh, sy akan berusaha maksimal untuk melakukan syarat tersbut asalkan saya bisa mendapat 1jt riyal. lalu syaikh menjawab, syaratnya adalah kamu harus menyerahkan 2 bola mata milikmu, setengah hati kamu, setengah liver kamu. Mendengarnya, pemuda itu pun keberatan, lalu syaikh itu memberi pilihan berikutnya, bahwa ada pekerjaan yg bisa mendapatkan uang yg besar, yg mampu membayar lunas hutang mu, pekerjaan itu adalah menjadi misionaris di afrika, syaratnya kamu harus murtad dan keluar dari islam, mendengar itu, pemuda itu pun keberatan lagi, dia gak mau murtad. Dan syaikh itu bilang ke pemuda tersebut, begitu banyak nikmat Allah yg kamu dapatkan selama ini, yg baru saya tunjukkan itu adalah sedikit contoh nikmat kesehatan dan nikmat iman, dan keduanya nilainya jauh lebih dari hutangmu, lalu mana mungkin kamu dengan alasan hutang 750rb riyal kamu meninggalkan semua nikmat yang Allah berikan kepada mu.

Tidak berguna suatu ilmu, bila dengan hal itu, rasa takut kita kepada Allah semakin berkurang. Misalkan dengan merasa kita sudah hafal suatu surat dlm AlQur’an, malah membuat kita semakin tidak takut kepada Allah. Ada sebuah kisah, seseorang berwasiat kepada sanak saudaranya, bila dia meninggal, agar jasadnya di bakar dan abunya di sebar di lautan, harapannya, bila abunya tersebar di lautan, tidak ada siksa kubur yg akan menimpanya, karena jasadnya tersebar, di lain sisi, orang tersebut meyakini bahwa meskipun abu nya di sebar di lautan, jasadnya akan kembali utuh saat di akhirat, tetapi dia tetap berwasiat seperti itu kepada sanak saudaranya, karena dia tahu, hal maksiat yang telah dilakukannya akan membuat Allah murka. Saat di akhirat, Allah bertanya kepadanya, kenapa kamu menyuruh sanak saudara mu untuk membakar jasadmu dan menebar abunya di lautan, lalu dia menjawab, saya takut akan siksa mu ya Allah. Mendengar itu, Allah menyuruh malaikat untuk memasukkan orang tersebut di surga.

-Nur Muhlis-

300 Rupiah yang Berkesan

April 14, 2017 Leave a comment


Saat masih sd, kami (saya dan medi/adik) setiap sore mengikuti TPQ Taman Pengajian Al Qur’an di Muslimat 2 Karangpoh. Kami berangkat ataupun pulang dari TPQ dengan cara berjalan kaki, dari TPQ ke rumah jaraknya kurang lebih 500m, suatu ketika, saat pulang dari TPQ, ada ibu2 yg memanggil kami, kami berdua gak kenal ibu2 itu,  model rumah ibu itu tampak depan banyak kaca nya, terdiri dari tiga susunan kaca, 2 kaca nako untuk ventilasi yang mengapit satu kaca besar, dgn kaca tersebut, orang di dalam rumah bisa melihat jelas jalan raya, tetapi yang di jalan hanya bisa melihat kaca warna hitam, saat ini sebutan dari tipe kaca tersebut adalah tipe kaca riben. Di pintu, ibu2 itu memanggil kami masuk ke rumahnya, gak pake lama, kami pun masuk rumah, saat tiba di balik kaca nako dan kami belum sempat duduk, masing2 dari kami di kasih uang kertas 3 lembar Rp100,-.  uang segitu jumlahnya gak besar2 sekali sih, karena saya juga dikasih segitu oleh ayah setiap hari, saya tanya ke ibu2 tadi, uang apa ini bu? ibu itu lantas njawab “uang jajan untuk kalian”, setelah itu kami di persilahkan pulang. Ibu itu belum menjelaskan kenapa kami diberi uang jajan? dan kenapa kami yang diberi, bukankah banyak yang lebih membutuhkan? maklum, keluarga kami termasuk orang yang mampu. karena rumah yang kami tempati saat itu pun baru selesai dibangun 2 tingkat.

Senang sekali rasanya mendapatkan uang tersebut. Seingatku, uang itu adalah uang pertama yg saya terima selain dari ayah dan ibu ku. Lama saya berpikir tentang alasan dari ibu2 itu, setiap pulang dari TPQ dan lewat rumah itu, sy berpikir terus ttg alasan ibu itu memberi uang, dalam hati bertanya kenapa ibu2 tadi ngasih kami uang begitu saja ya, tanpa suatu alasan, mungkin karena kami rajin mengaji kali ya, pikirku saat itu.

Pengaruh dari kejadian itu….

Sampai sekarang, kalau lihat rumah nya, saya selalu terngiang pada kejadian saat itu yaitu ada ibu2 baik yang memberi kami uang tanpa suatu alasan. begitu kuatnya kenangan itu, bila saya ketemu anak kecil yang tidak ku kenal saat pulang mengaji atau pulang jamaah sholat, saya terkadang memberi uang anak tersebut tanpa suatu alasan, saya hanya ingin mereka mengingat bahwa saat mereka besar nanti ada orang asing yang memberi mereka uang jajan tanpa alasan.

Tanpa bermaksud mengesampingkan jasa Ortu, amal ibu2 itu membekas, sehingga bila saya beramal kepada anak kecil, yg teringat adalah ibu2 tadi, nilai nominal pemberian nya ibu itu gak seberapa, tetapi nilai amalnya tak terhingga.

-Nur Muhlis-

How To Set Clock/Time Toyota 17423 Radio

March 22, 2017 Leave a comment


(1) Holding the AM/FM BUTTON, then adjust the time by pushing the NUMBER BUTTONS 1-2.
Hour adjustment… NUMBER BUTTON 1

Minute adjustment… NUMBER BUTTON 2

(2) To set the time to 00 min. 00 sec. (JUST) push the NUMBER BUTTON 3 while pushing the AM BUTTON. IN this case, the time is rounded up to the current hour or the next hour according to the minute.
HOW TO TURN TIME DISPLAY ON/OFF:
(1) To turn the clock mode ON, push the SEEK BUTTON “^”, while pushing down the NUMBER BUTTON 4.
To turn it OFF, repeat the above operation. (only when power source of the AUDIO system is turned OFF).
source : pradopoint.com.au/archive/index.php/t-13958.html

Kemudahan Beragama

October 15, 2016 Leave a comment

kaabah

Seorang wanita datang mengadukan suaminya kepada Nabi saw.:”Wahai Rasul, suamiku, Shafwan, menghardik dan memukulku bila aku shalat, memaksaku berbuka bila aku berpuasa (sunnah), dan dia tidak sholat subuh kecuali setelah matahari terbit.”

Mendengar keluhan ini, Nabi saw. menoleh dengan seluruh badannya – begitulah cara Nabi menoleh – kepada suami si wanita itu sambil bertanya: “Benarkah itu wahai Shafwan?”

“Benar, wahai Nabi,” Jawab Shafwan tulus, “tetapi aku menghardik dan memukulnya karena (shalatnya panjang) ia membaca dua surah (selain Al-Fatihah) setiap rakaatnya. Telah berkali-kali kutegur, tetapi ia terus menolak. Benar, wahai Rasul, aku menyuruhnya berbuka ketika berpuasa sunnah, sebab aku adalah seorang pemuda sehat yang seringkali tak mampu menahan birahi. Juga benar bahwa aku memang tidak shalat subuh kecuali setelah matahari (hampir) terbit. Sebab keluargaku telah terbiasa bangun lambat, sungguh sulit bagiku bangun di waktu fajar.”

Nabi saw. membenarkan sifat Shafwan, sambil berpesan: “Shalat subuhlah segera setelah engkau bangun!” Kemudian beliau menoleh pada istri Shafwan dan berkata : “persingkatlah shalatmu dan jangan berpuasa sunnah kecuali atas perkenan suamimu.”

Kisah diatas dikemukakan oleh Ahmad Hasan Al-Baquri, mantan Menteri Waqaf dan urusan Al-Azhar, Mesir. Dalam kumpulan tulisannya yang diberi judul Min Adab Al-Nabuwah (Sekelumit Etika Kenabian), ketika membicarakan kemudahan-kemudahan beragama. Memang, Al-Qur’an secara gamblang menggarisbawahi bahwa Allah tidak menjadikan sedikit kesulitan pun dalam hal beragama (QS 22:78).

Salah satu kaidah hukum Islam menegaskan bahwa “kesulitan melahirkan kemudahan”, dalam arti “jika seseoarang mengalami kesulitan dalam pelaksanaan agama, maka ia mendapat pengecualian sehingga memperoleh kemudahan”. Sayang, jalan-jalan kemudahan itu tidak banyak diketahui umat karena banyak ulama enggan mempopulerkannya. Mereka khawatir, dengan mempopulerkannya, akan menimbulkan sikap mengabaikan agama. Sikap ini, dari satu sisi, dapat dibenarkan. Tetapi, hendaknya diingat juga bahwa tidak jarang ajaran agama diabaikan sama sekali karena kemudahannya tidak diketahui.

Sungguh menarik makalah Mufti Lebanon Selatan, Syeikh Nadim Al-Jisr, yang pernah disampaikan di Muktamar Kedua Badan Penelitian Islam di Mesir: “Adalah baik memberi kemudahan, misalnya, dalam bersuci, menggabung shalat (zhuhur dan asar, atau maghrib dan isya) khususnya saat ada uzur (kesibukan) sesuai dengan madzhab ulama Hanbali. Apalagi seperti pada saat sekarang ini, di mana tuntutan untuk bekerja keras dan cepat untuk memenuhi kebutuhan hidup sangat tinggi.” Ini bukan berarti menggampangkan ajaran agama, tetapi demikian itulah ajaran agama.

Mungkin ada yang kaget membaca komentar Al-Baquri tentang kisah di atas. Dia menulis: “Rasulullah saw. membolehkan bagi yang terbiasa tidur untuk melaksanakan shalat subuh sesudah terbitnya matahari. Ia tidak berdosa karena keterlambatannya itu. Demikianlah, orang tidak mengenal kemudahan ini.“ Supaya tidak mengagetkan, perlu ditambahkan bahwa ini tidak berlaku bagi mereka yang berleha-leha di malam hari, juga tidak bagi yang terlambat bangun karena kemalasan.[]

Sumber : Lentera Hati: kisah dan hikmah kehidupan / M. Quraish Shihab, -Bandung:Mizan,1994. hlm 58-60

Memahami Petunjuk Agama

October 15, 2016 Leave a comment

target

Tiga jenis olahraga yang dianjurkan Nabi, dalam salah satu hadis, adalah : Ajarilah anak-anak mu berenang, memanah, dan menunggang kuda. Tentunya ini bukan berarti bahwa hanya ketiga olahraga itulah yang dianjurkan untuk diikuti oleh kaum Muslim. Karena dalam riwayat lain, beliau bertanding dengan istrinya, Aisyah, dalam olahraga lari. Beliau juga bergulat dan menang ketika ditantang seorang jagoan yang bersedia masuk Islam bila dikalahkan.

Mengapa beliau berolahrahga dan menganjurkannya? Jawabannya, jelas, untuk kesehatan jasmani. Tetapi apakah hanya demikian? Jawabannya jelas “tidak!” Karena Al-Qur’an justru mengecam mereka yang sehat jasmaninya – bahkan indah mengagumkan “bagaikan kayu tersandar” – tetapi jiwanya kosong (lihat QS 63:4).

Nabi saw. juga memperingatkan bahwa orang yang kuat atau pegulat bukannya yang (hanya) memiliki kekuatan fisik, tetapi adalah mereka yang mampu mengendalikan diri. Dalam Al-Qur’an, Tuhan memerintahkan manusia agar melakukan persiapan-persiapan dalam menghadapi musuh – baik yang telah diketahui kekuatannya maupun yang belum. Persiapan tersebut berupa kekuatan apa saja yang mampu dipersiapkan serta kuda-kuda yang ditambat (QS 8:60). Nabi saw. menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “kekuatan” tersebut adalah “memanah”. Demikianlah panahan dijadikan sebagai salah satu sarana membela negara dan agama.

Nah, bagaimana kita memahami penjelasan ini dalam kaitannya dengan berolah raga serta kaitannya dengan pemahaman petunjuk-petunjuk agama? Berolah raga tidak sekedar untuk meraih kesehatan jasmani atau sekadar mencapai prestasi. Lebih dari itu, ada tujuan “kejiwaan”. Karenanya, nilai-nilai kejiwaan harus di prioritaskan dan dijunjung tinggi. Bukan hanya yang berkaitan dengan sportivitas, tetapi termasuk pula nilai-nilai spiritual keagamaan.

Di sisi lain, bagaimana penjelasan Rasulullah itu dipahami dalam kaitannya dengan pemahaman agama? Ada sebagian orang yang memahami petunjuk-petunjuk agama secara kaku walaupun itu berkaitan dengan bidang keduniaan dan kemasyarakatan. Yaitu, misalnya, mereka memepertahankan teks ajaran dan makna-makna harfiahnya tanpa memperhatikan konteks sosial dan perkembangan masyarakat pada masa petunjuk itu disampaikan. Pola pikir semacam ini akan dapat menyulitkan umat. Bayangkan saja kalau kita kini hanya mempersiapkan panah beserta kuda-kuda yang ditambat untuk menghadapi musuh. Apa gerangan yang akan terjadi bila kita diserang? Jika demikian, kita harus memahami bahwa ada petunjuk-petunjuk Rasulullah saw. yang diangkatnya sebagai contoh untuk masyarakat beliau limabelas abad yang lalu.

Petunjuk semacam ini harus dipahami dalam konteksnya, kemudian disesuaikan dengan konteks kita masa kini, karena junjungan kita Muhammad saw. tidak selalu berfungsi sebagai rasul. Sekali waktu beliau berfungsi sebagai mufti yang menyampaikan putusan atau hakim yang memutuskan perkara. Pada saat yang lain, beliau adalah pemimpin yang menyesuaikan petunjuknya dengan kondisi masyarakatnya, bahkan sesekali juga sebagai seorang manusia biasa yang memiliki keistimewaan, kecendrungan, serta kepentingan yang dapat berbeda dengan manusia-manusia lain. Memahami petunjuk-petunjuk beliau atas dasar pemilahan tersebut, menjadikan agama Islam benar-benar sesuai dengan waktu dan tempat.[]

Sumber : Lentera Hati: kisah dan hikmah kehidupan / M. Quraish Shihab, -Bandung:Mizan,1994. hlm 55-57

Agama Itu Fitrah

October 15, 2016 Leave a comment

candle

Fitrah berarti asal kejadian, bawaan sejak lahir, jati diri, dan naluri manusiawi. Agama (yang bersumber dari Tuhan) yang intinya adalah Ketuhanan Yang Mahaesa, menurut Al-Qur’an, adalah fitrah (lihat QS 30:30). Hanya saja, fitrah ini tidak seketat yang lain dan pemenuhannya dapat ditangguhkan sampai akhir hayat.

Komunisme juga memiliki paham yang akhirnya menjadikannya semacam agama, tetapi ia tidak sesuai dengan fitrah.

Pangkalan tempat bertolak dan bersauh agama adalah wujud yang Mahamutlak yang berada di luar alam, namun dirasakan oleh manusia. Sedangkan komunisme adalah masyarakat bawah yang terbentuk karena adanya manusia. Agama berpandangan jauh kedepan melampui batas hidup duniawi, sedangkan komunisme membatasi diri pada kekinian dan ke-disini-an.

Agama memperhatikan manusia seutuhnya, komunisme mengabaikan ruhani manusia. Agama berusaha mewujudkan keserasian antar seluruh manusia, komunisme mengajarkan bahwa pertarungan antarkelas mutlak adanya. Inilah sedikit dari banyak perbedaan. Kalau demikian, agama dan komunisme bertolak belakang sehingga pertarungannya sulit dihindari. Siapa yang akan menang? Sebelum menjawab pertanyaan ini, kita hayati terlebih dahulu pernyataan: “Agama adalah fitrah”.

Karena agama adalah fitrah atau sejalan dengan jati diri, maka ia pasti dianut oleh manusia – kalau bukan sejak muda, maka menjelang usia berakhir. Fir’aun yang durhaka dan merasa dirinya tuhan pun pada akhirnya bertobat dan ingin beragama, sayang ia terlambat (QS 10:90).

Karena agama adalah fitrah, maka ia tidak boleh dan tidak perlu dipaksakan. Mengapa harus memaksa? Tuhan tidak butuh, dan akhirnya pun Dia dan agama-Nya diakui. Bukankah agama itu fitrah?

Karena agama adalah fitrah, maka pasti petunjuknya tidak ada yang bertentangan dengan jati diri dan naluri manusia. Kalau pun ada maka cepat atau lambat akan ditolak oleh penganutnya sendiri, dan ketika itu terbukti bahwa ia bukan fitrah.

Islam bukan saja sesuai dengan fitrah, tetapi bahkan memberikan hak veto kepada pemeluknya untuk menangguhkan atau membatalkan pelaksanaan petunjuk apabila menyulitkan seseorang: Allah sama sekali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama sedikit pun kesulitan (QS 22:78). Allah menghendaki kemudahan untuk kamu dan tidak menghendaki kesulitan (QS 2:185). “Aku diutus membawa al-hanafiyah al-samha’ (agama yang luwes dan toleran),” demikian sabda Nabi saw.

Komunisme bertentangan dengan fitrah, bukan hanya ajarannya tetapi juga cara penyebarannya yang bersifat memaksa atau membodohi. Memang hanya cara itulah yang dapat dilakukan, karena ia bertentangan dengan fitrah. Apakah kejatuhan mereka di Rusia karena kerasnya tekanan dan pemaksaan atau karena semakin tingginya kesadaran akan pertentangannya denga fitrah manusia? Sejarahlah yang akan mencatat.

Kewaspadaan terhadap komunisme harus terus kita pelihara, walaupun kita sadar dan yakin bahwa akhirnya paham ini – sebagaimana halnya semua paham yang bertentangan dengan jati diri manusia – pasti akan kalah dan dikubur oleh penganutnya sendiri.

Manusia dari hari ke hari semakin dewasa. Kalau sebelumya Tuhan menilai perlu mengutus para nabi dan merinci petunjuk-Nya, maka sejak manusia menanjak tangga kedewasaan, Dia menghentikan kedatangan rasul dan mencukupkan dengan petunjuk umum yang dibawa oleh Rasul terakhir. Dengan petunjuk umum itu, bersama akal yang semakin dewasa, manusia akan mampu menemukan kebenaran.[]

Sumber : Lentera Hati: kisah dan hikmah kehidupan / M. Quraish Shihab, -Bandung:Mizan,1994. hlm 52-54